“Kalau Sudah Cinta, Apa sih yang Jadi Tanya?”

Siang itu datang ke BMT Barrah, seorang teman yang sudah saya anggap sebagai guru. Di tengah obrolan santai di masa istirahat lepas Zhuhur itu, dia meminta doa kepada saya. “Doakan saya ya, insya Allah tahun 2014 saya ke Malaysia.”

“Ke Malaysia, Tadz? Kuliah?” tanya saya. Saya tahu persis teman yang saya panggil sebagai ustadz ini: ilmunya mumpuni, semangat belajarnya tinggi, dan tetap rendah hati. Karenanya saya menduga dia mau kuliah lagi tentunya, bukan jadi TKI atau bermain sepakbola di Selangor FC ;p

“Iya, di IIUM,” jawabnya.

“Jurusan apa, Tadz?”

“Sama aja seperti di Mesir: tafsir.”

“Wow… keren banget, Tadz.” Saya ekspresif sekali mendengarnya.

Bertubi-tubilah saya bertanya ini itu, tentang Malaysia, tentang IIUM, tentang tafsir, sampai puncaknya saya bertanya kepada beliau:

“Tadz, kenapa sih semangat bener kuliah? Nuntut ilmu ke sana ke mari? Apa sih motivasinya?” Pertanyaan kojo ini saya sampaikan karena dalam benak ini tergambar beban para mahasiswa yang mesti belajar, mengerjakan tugas, bikin riset, baca buku dan sebagainya, yang pada saat yang sama anak istri juga mesti dinafkahi. Tentu bukan sembarang orang, bukan sembarang keluarga, yang bisa melaluinya dan berhasil bersamaan…

Maka meluncurlah kalimat-kalimat penuh mutiara dari lisan guru saya ini. Sambil menuangkannya di selembar kertas sebagai sketsa isi nasihatnya.

“Akhi, motivasi menuntut ilmu, atau motivasi apa saja yang dilakukan di dunia ini, tidak lain adalah ma’rifatullah: mengenal Allah, pangkal mahabbatullah…”

Saya pun gagaro teu ateul

“Begini,” lanjutnya menjawab ketidakgatalanatasgarukan saya, “Tau nggak apa yang paling dirindukan orang ketika di surga nanti? Apa puncak kenikmatan di surga kelak?”

“Berjumpa Allah ya?” saya menebak.

“Ya, betul. Meskipun di surga banyak berlimpah kenikmatan berupa rumah yang indah, bidadari yang renyah (kerupuk kali, tadz..), buah-buahan yang lezat, sungai-sungai yang mengalir dan menyegarkan, semua itu tidak ada apa-apanya, tidak ada peduli lagi kita pada-padanya, dibandingkan dengan nikmatnya berjumpa “wajah” Allah. Berjumpa Allah adalah puncak kenikmatan surga.”

“Kenapa, Tadz?”

“Karena Dia-lah yang dirindukan selama ini. Bagi para perindu Allah, pecinta Allah, tentu mereka tidak peduli lagi pada apapun yang ada di sekitarnya, mereka hanya ingin berjumpa Allah…” panjang lebar si ustadz ini, dan terus melanjutkan…:

“Ooo ini toh Allah yang selama ini saya ibadahi, yang selama ini saya tauhidi, yang sepanjang masa dia curahkan kasih-sayangNya pada kita… Begitulah orang-orang mukmin saat di surga nanti.”

Ustadz saya ini melanjutkan: “Akhi, Allah itu amat sangat sayang pada kita. Manakah yang lebih mencintai diri kita, kita sendiri atau Allah?” Nah, retorika ini mah.

“Allah sangat menyayangi kita. Allah sangat mengasihi kita. Kasih sayangNya tiada terbatas. Tahukah Akhi, Allah memiliki 100 kasih sayang, dan yang satu diberikannya di dunia ini sehingga semua, sekali lagi: semua–makhlukNya punya rasa kasih sayang, hingga seekor kuda akan mengangkat kakinya, ketika dia tahu di bawah kakinya ada anaknya. Begitulah. 1/100 saja Kasih Sayang Allah sudah bikin sangat nyaman kita tinggal di dunia ini…”

“Dan yang 99, akhi…” lanjut ustadz ini, “diberikanNya nanti di akhirat, khusus bagi hamba-hambaNya yang beriman… Masya Allah, subhaanallaah…”

Mangut-mangut saya mendengar paparan luar biasa dalem banget ini…

“Nah, akhi… mengenal Allah sedikit saja, mengenai 1/100 kasih sayangNya saja, sudah membuat kita mangut-mangut, terkagum-kagum sambil lirih berucap masya Allah,,, subhaanallah… Padahal Allah telah mengenalkan nama-namaNya melalui asmaul husna… pelajarilah akhi… kenalilah Allah… ma’rifatlah…”

Maka yakin, bagi orang yang mengenal Allah, atau sedang berupaya mengenal Allah, di dalam dirinya akan lahir kecintaan pada Allah. “Kalau sudah cinta, apa sih yang jadi tanya?”

Kalau kita cinta Allah.. Dan pada saat yang sama Allah mewajibkan kita menuntut ilmu, apa yang layak jadi penghalang kita?

Nah, begitulah manusia-manusia yang cinta Allah… Panggilan adzan adalah panggilan Allah baginya, hingga ia bergegas berjamaah shalat di masjid-masjid-Nya…

Dzikir orang-orang mukmin adalah ucapan yang makin menguatkan rasa cinta dan kerinduan pada-Nya…

Lalu mereka membaca Al-Quran, surat cinta dari Allah… Dan di dalamnya ada perintah-perintahNya, ada larangan-laranganNya, kira-kira bagaimana reaksi orang-orang yang penuh cinta pada Allah? …

“Begitulah, akhi…” ustadz ini melanjutkan kembali… “Begitulah pula upaya kita menegakkan syariat Allah, bukan untuk sok-sok-an, bukan hebat-hebatan… Ini semua hanya ekspresi kerinduan kita hidup di dunia ini full 100 persen dalam aturanNya… Dan kita, tidak masalah mati dalam memperjuangkannya, justru itu yang dicari: mati syahid pintu gerbang berjumpa denganNya…”

Luar biasa ustadz saya yang satu ini, telah mengingatkan kita semua agar mulai dan terus memupuk rasa cinta pada-Nya. Dan begitulah pula saya mengajak kamu-kamu semua, mari bersama-sama meraih cinta-Nya…

Alhamdulillah…***

Satu pemikiran pada ““Kalau Sudah Cinta, Apa sih yang Jadi Tanya?”

  1. Ping balik: Tak Kenal Maka Tak … | Galecok Heru Be

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s