Sukses UN Tanpa Stress

Saya punya teman, seorang aktivis dakwah, juga seorang guru SMA di sebuah sekolah di Bandung. Saya kenal dia sebagai pribadi dengan integritas dan kapabilitas yang baik. Di SMA itu, dia mengajar matematika.

Nah, uniknya, dengan kapasitas yang ia miliki, dia mengajar matematika di sekolahnya “hanya” dengan mengistruksikan anak-anak didiknya menyalin, sekali lagi, menyalin, soal dan kunci jawaban dalam buku-buku bundel soal UN dan SNMPTN. Begitu terus tiap hari. Kalo ada muridnya yang mentok, capek, kesulitan konsentrasi menyalin, barulah ia sedikit saja menerangkan materi, dengan lebih banyak cerita-cerita kehidupan, dan pesan-pesan dakwah. Selesai. Lalu anak-anak didiknya menyalin soal-soal yang lain lagi.

Kepada saya dia berujar bahwa hal tersebut ia lakukan, karena memang sekolahnya menjadikan lulusnya UN sebagai bukti kesuksesan sekolah. Nah, demi tercapainya target lulus UN ini, tentu bukan dengan dikasih bocoran soal atau kunci jawaban. Itu mah terlalu vulgar, terlalu jahat. Maka latihan mengerjakan soal, melalui menyalin soal dan kunci jawaban sepanjang tahun pelajaran dia, itulah yang ia pilih untuk dilakukan. “Apa boleh buat,” begitu katanya.

Sebagai teman, saya tidak menyangsikan kemampuan ilmu dan misi dakwah yang melekat padanya. Namun dalam sistem sekolah yang pragmatis, kata-kata “apa boleh buat”, jelas menunjukkan bahwa ia sudah tidak sanggup lagi berbuat lebih baik lagi dari cara seperti itu.

***
Cerita tadi sekedar crop serpihan masalah besar dalam sistem pendidikan kita. Luar biasa rumitnya pendidikan di negeri ini. Ruwet, di mana ujung di mana pangkal, di mana yang tengah-tengah.

Nah, pagi ini saya menemukan tulisan Ust. Fauzil Adhim di FB. Judulnya “Sukses UN Tanpa Stress”. Sebuah tulisan khas beliau yang pada banyak hal menunjukkan kegelisahan pada pendidikan, dengan gambaran ideal semestinya pendidikan dijalankan. Saya agak sulit menangkap jalan keluar atas kegelisahan itu. Tapi ya memang wajar juga sih, masa mengharapkan solusi dari sebuah tulisan. Sengaja saya share di sini, mudah-mudahan banyak orang teruwetkan dan semakin nyatalah bahwa keruwetan bangsa ini berpangkal pada pendidikan.

O Allah… Tolonglah kami.

===
Sukses UN Tanpa Stress
by Mohammad Fauzil Adhim (Notes) on Monday, April 22, 2013 at 10:14am
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Hari stress nasional itu telah tiba. Beribu-ribu anak, orangtua dan bahkan guru mengalami stress hanya karena gemetar menghadapi ujian nasional (UN). Inilah berita sedih tentang pendidikan di sebuah negeri bernama Indonesia. Berbulan-bulan perhatian guru tersita untuk persiapan menghadapi ujian. Ini seharusnya tak perlu terjadi. Terlalu naïf jika seluruh tenaga dikerahkan hanya untuk memastikan siswa siap menghadapi UN dengan baik. Alangkah sia-sia belajar 3 atau 6 tahun (SD) jika hanya untuk meraih nilai (skor) yang memuaskan. Jika hanya untuk memperoleh skor yang tinggi, lalu untuk apa harus berpayah-payah sekolah? Mengapa tidak kursus saja?

Sekolah seharusnya memusatkan pada pembentukan karakter yang kuat. Setelah itu, kompetensi yang unggul. Karakter tak dapat dibangun dengan memberikan pengetahuan tentang karakter. Character isnot imparted. It’s inspired. Berbusa-busakita bicara tentang karakter, jika sekolah tak punya budaya karakter yang kuat,maka karakter hanya di atas kertas. Sangat berbeda pembelajaran tentang karakter dengan pendidikan karakter. Lawan dari budaya karakter adalah budaya prestasi.

Jika budaya karakter benar-benar kuat, prestasi akan cenderung mengikuti. Ia merupakan konsekuensi yang sangat wajar dan sudah seharusnya terjadi, sehingga menghadapi ujian nasional tak perlu menangis. Jika sekolah benar-benar membangun kompetensi (bukan sekedar ability/kemampuan),maka UN bukanlah berita mengerikan buat siswa. Justru sebaliknya, siswa sangat bersemangat dan penuh gairah. UN menjadi berita gembira karena mereka dapat menakar kemampuan dengan baik.

Tetapi jika sekolah lupa membangun kompetensi, dan tidak melakukan assessment secara berkala terhadap kompetensi siswa, maka sangat wajar jika UN menjadi berita besar yang bikin gemetar. Berita tentang stress massal menjelang UN yang marak terjadi dimana-manamenandakan ada kesalahan mendasar.

Tanpa kompetensi yang memadai, maka sekolah hanya akan bersibuk meningkatkan ability(kemampuan) siswa untuk menghadapi ujian. Sekolah sibuk memberikan latihan mengerjakan soal secara terus-menerus setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Bahkan bukan tidak mungkin ada sekolah yang sibuk memberi sarapan soal dan latihan intensif sejak anak awal kelas 6, 9 dan 12.

Teringat buku karya Marzano berjudul The Art & Science of Teaching. Ulangan intensif sebagai bentuk latihan mengerjakan soal, dapat bermanfaat meningkatkan ability siswa dalam menjawab soal jika frekuensi sangat tinggi. Ulangan 30 kali dalam 15 pekan memberi dampak, tetapi tidak signifikan. Ini hanya meningkatkan ability. Bukan kompetensi. Maka jika sekolah tidak ingin terjebak dalam penderitaan tahunan, sudah saatnya menata ulang arah pendidikan dan pembelajaran dengan benar-benar membangun dasar-dasar belajar (the basic of knowing) yang kuat, pengetahuan dasar yang memadai disertai penguasaan konsep (catat: konsep!!!) yang matang, serta budaya belajar (learning culture) yang sangat kuat.

Penguasaan konsep jauh lebih penting daripada keterampilan mengerjakan soal. Ini yang harus benar-benar diperhatikan guru. Sama sekali tidak hebat! Sungguh, tidak hebat sama sekali anak kelas 1 SD terampil berhitung, tapi tidak memahami konsep dasar.

Secara terencana dan terukur, kepala sekolah berkewajiban merancang proses pembentukan budaya belajar bersama para guru. Kelas bawah (1-3 SD) merupakan masa paling stategis membangun budaya belajar. Jika dasarnya sangat kuat, mudah bagi anak mengejar ketertinggalan dalam hal penguasaan materi yang dipersyaratkan oleh kurikulum nasional. Ibarat bangunan, jika fondasi sangat kuat dan mengakar, setinggi apa pun yang mau kita bangun, tak masalah. Kelas atas (4-6 SD) merupakan masa perawatan dan penguatan budaya belajar. Pada masa ini, keterampilan belajar dapat diberikan. Kelas 5 SD, saatnya kita membangun orientasi hidup yang lebih kuat, menata tujuan hidup yang lebih jelas serta orientasi belajar.

Jika kita dapat mewujudkan hal ini di sekolah, maka sepatutnya siswa tidak perlu mengalami stress mencekam hadapi ujian nasional. Seharusnya,sekolah memang tidak menjadikan sukses UN sebagai tujuan. Tetap ijika sekolah benar-benar menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi akademik sangat tinggi, maka sukses UN merupakan konsekuensi yang wajar terjadi. Sekolah memang harus membentuk karakter siswa. Tetapi apakah siswa yang beriman dan berakhlak mulia tak boleh cerdas berprestasi?

Saya teringat ketika dulu masih menjadi relawan pendidikan. Sering saya sampaikan bahwa menyontek bukanlah sekedar pelanggaran, lebih dari itu ia adalah kejahatan. Bermula dari dusta terencana, keburukan lebih besar dapat menyertai. Nah, jika siswa merasa jijik untuk menyontek, maka apakah yang akan ia kerjakan untuk menghadapi ujian selain menjadikan dirinya unggul?

Jika sekolah berhasil menanamkan keimanan dan keyakinan yang sangat kuat terhadap dien, sudah seharusnya anak-anak bersemangat. Mereka bersungguh-sungguh terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya, meminta tolong hanya kepada Allah Ta’ala dan tidak merasa lemah. Artinya, jika anak-anak itu telah memperoleh pembelajaran tentang agama, tetapi mereka masih belum memiliki semangat yang menyala, ini menandakan ada hal yang serius terlalaikan dalam soal menanamkan keyakinan yang kuat dan aqidah yang lurus. Ini pertanda bahwa yang berlangsung di sekolah barulah pelajaran tentang agama Islam. Bukan pendidikan beragama yang berpijak pada penanaman keyakinan.

Salah satu kesalahan berpikir yang sangat mengerikan buat saya adalah, mempertentangkan karakter dengan prestasi; seakan karakter yang kuat itu bertentangan dengan prestasi yang cemerlang. Bermula dari kesalahan pikir yang sangat berbahaya ini, sekolah Islam seakan telah melakukan langkah terbaik dengan mengutamakan karakter “sehingga” prestasi akademik kedodoran. Padahal yang terjadi, keduanya rusak parah. Karakter tak terbentuk dengan kuat, sementara hanya untuk menghadapi UN yang seharusnya mereka sambut dengan gembira, justru dipenuhi hal-hal yang tak patut. Bahkan ada sejumlah sekolah maupun orang tua yang terjatuh pada kesyirikan serius.

Maka,wahai para guru, mari sejenak kita ingat kembali bahwa mendidik bukanlah sekedar menyampaikan pelajaran. Ia adalah dakwah. Wahai Para Guru, ketika hari ini engkau berdiri di depan kelas, ingatlah ada dakwah di sana. | Jangan Remehkan Dakwah Kepada Anak: http://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/jangan-remehkan-dakwah-kepada-anak/436312186417915

Pertanyaannya, bagaimana sekolah mengantarkan anak-anak untuk meraih prestasi tanpa menciderai kehormatan, keyakinan, keimanan, integritas dan kejujuran? Saya memohon petunjuk dan kekuatan dari Allah Ta’ala semoga mampu menghadirkan di catatan facebook ini dengan segera. InsyaAllah.

===
sumber: https://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/sukses-un-tanpa-stress/495160487199751

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s