Dua Penutup Hidayah

Bismillah…
Kemarin saya menulis tentang urgensi ilmu. Sekarang saya ingin berbagi pikir tentang hal-hal yang bisa menghambat masuknya ilmu, hingga jauhlah kita dari hidayah-Nya, na’udzubillah…

Saya mencatat setidaknya ada dua penyakit besar yang menjadi tembok penghalang masuknya ilmu dan hidayah kepada kita. Dua hal ini, semestinya tidak dimiliki oleh kita yang mencitakan hidayah untuk dekat dengan Allah SWT.

Pertama, adalah penyakit ‘aku tahu itu’. Pernahkan Anda mengikuti sebuah kelas, mendengarkan nasihat teman, menghadiri seminar pakar, dan pada saat mereka berceramah menyampaikan ilmunya, lalu kita bicara dalam hati, “…mmm kalo itu mah atuh aku juga udah tahu. I know that. Aku tahu itu, bahkan aku bisa menyampaikan dengan lebih baik dari kamu… dsb.” Kalau pernah, itulah penyakit. Harus disembuhkan. Ketahuilah bahwa suara hati kita yang bergumam-gumam macam tadi adalah penutup pintu ilmu dan hidayah. Hingga jika orang lain keluar dari seminar itu mereka berwajah ceria karena mendapatkan pencerahan, Anda malah bermuram durja karena merasa tidak mendapat apa-apa.

Hilangkanlah “aku tahu itu”. Dengarkan penceramah di depan kita. Ikuti arahannya, ikuti alur besarnya. Karena takkan pernah rugi orang belajar kembali tentang sesuatu yang sudah diketahui. Tidak rugi. Bahkan sebenarnya memperkuat pengetahuannya dengan berbagai cara penyampaian yang pasti setiap orang akan berbeda.

Sungguh mengenaskan nasib orang yang berpenyakit “aku tahu itu”. Dia kesulitan membeli buku bacaan, dia malas ikut pelatihan keterampilan, dia tidak bersemangat mendengarkan ceramah agama, karena merasa sudah tahu semua. Salam bangkrut untuk orang pertama ini.

Yang kedua, penyakit penutup hidayah ini adalah selalu bertanya “siapa dia?”. Mau tahu cara berpikir orang kedua ini? Setiap ada informasi buku bagus, seminar bagus, pelatihan bagus, ceramah bagus, orang ini lalu bertanya, “siapa dia? Dari mana? Dari jamaah mana? Apa latar belakangnya? Kira-kira punya misi tersembunyi apa di balik kata-katanya?” Lalu ia memutuskan untuk tidak ikut karena jawaban atas pertanyaan tadi tidak sesuai seleranya. Sampaikan salam bangkrut juga untuk orang kedua ini. Ia tidak akan dapat ilmu, yang tentu menjauhkannya dari hidayah.

Ajakan saya adalah: mari hilangkan dua penyakit penghalang hidayah ini dari diri-diri kita. Jauhkan perasaan “aku tahu itu” dan hilangkan pertanyaan “siapa dia?”. Jika ada peluang ilmu, sambutlah ia sebagai pintu hidayah. Bukankah hikmah adalah harta yang hilang milik kaum muslimin, yang kita harus mengambilnya di mana saja kita menemukannya.

Kalau selepas membaca tulisan ini, Anda lalu bergumam dalam hati, “siapa sih Heru Be? Ah tulisan kayak gini dibikin, yang ginian mah atuh saya juga udah tahu?” Hehehe… Salam bangkrut untuk Anda.#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s