Berilmu untuk Beroleh Hidayah

Sekitar tahun 2000an awal, saya pernah membaca–dan mendiskusikan dengan teman-teman, sebuah buku kecil karangan Al-Ghazali. Judulnya adalah Menjelang Hidayah, terjemahan dari Bidayatul Hidayah yang—katanya—adalah kitab pengantar untuk memahami Ihya Ulumuddin.

Buku itu memberikan pesan kepada pembacanya bahwa memperoleh hidayah Allah, ma’rifat kepada-Nya, hendaknya dimulai dan memang ditandai dengan keshalehan pribadinya dalam mengerjakan ibadah-ibadah harian. Tidak mungkin seseorang yang memperoleh hidayah–kata Al-Ghazali, pada saat yang sama melalaikan dan menyepelekan ibadah harian. Nah, buku itu lalu memandu kita apa saja amalan harian yang harus dikerjakan, disamping berbagai amalan buruk yang harus dihindari.

Salah satu amalan harian yang harus dikerjakan yang dipaparkan dalam buku itu adalah menuntut ilmu. Menuntut ilmulah setiap hari. Jadikan ia amalan harianmu. Begitu kurang lebih simpulan yang saya dapatkan.

Saya lalu memahami bahwa menuntut ilmu adalah jalan memperoleh hidayah. Dan hidayah takkan hadir kepada orang yang malas menuntut ilmu atau menutup pintu-pintu ilmu.#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s