Kosmetika Berbahan Nabati Pasti Halal, Benarkah?

Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengirim pesan lewat inbox di account FB milik istri saya. Isinya adalah sebuah penawaran produk kosmetik. Saat ditanya tentang kehalalan produk tersebut, teman saya menjawab bahwa produk ini pasti halal, karena dibuat dari produk nabati.

Sekilas alasan ini benar, karena dalam Islam tidak ada tumbuhan yang diharamkan. Namun benarkah semua produk olahan nabati pasti halal? Apakah pasti halal produk kosmetik berbahan baku tumbuhan? Saya pun kemudian melakukan penelusuran informasi ke beberapa sumber terpercaya.

Beberapa Kaidah
Ada beberapa prinsip yang harus dipahami berkaitan dengan penentuan kehalalan ini: Pertama, Allah SWT sebagai Rabb, hanya Dia-lah yang memiliki wewenang menghalalkan dan mengharamkan sesuatu. Karenanya, menghalalkan yang diharamkan Allah, atau sebaliknya, mengharamkan yang dihalalkan Allah adalah termasuk perilaku syirik.

Kedua, Islam memberikan kaidah kepada kita bahwa segala sesuatu pada dasarnya adalah halal, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Ada pula kaidah yang lain yang mengatakan bahwa menyiasati yang haram adalah haram. Dan niat baik yang dimiliki seseorang, tidak menghapuskan hukum haram sesuatu yang telah diharamkan.

Ketiga, sesuatu yang meragukan antara halal dan haram, namanya subhat. Dan seorang mukmin yang baik harus berhati-hati dan menghindarkan diri dari yang subhat.

Pengertian Produk Halal
Dalam buku saku panduan sertifikasi halal untuk UMKM yang dikeluarkan Dinas Koperasi Jawa Barat tahun 2010, definisi produk halal adalah yang memenuhi syarat kehalalan sesuai dengan syariat Islam dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Tidak mengandung babi atau bahan yang berasal dari babi
2. Semua bahan yang berasal dari hewan halal, yang disembelih menurut tata cara syariat islam.
3. Semua tempat penyimpanan, tempat penjualan, tempat pengolahan, dan transportasinya tidak digunakan untuk babi. Jika pernah digunakan untuk babi atau barang yang tidak halal lainnya, terlebih dahulu harus dibersihkan dengan tata cara yang diatur menurut syariat islam.
4. Semua makanan dan minuman yang tidak mengandung bahan yang dilarang/diharamkan

Titik Kritis
Memang pada dasarnya memilih produk halal itu sangat sederhana. Cukup melihat kriteria makanan haram, berarti yang di luar itu adalah halal. Namun seiring dengan perkembangan produksi makanan olahan yang bisa menggunakan berbagai macam bahan, maka berbagai produk itu memiliki titik kritis keharaman hingga hukumnya bergeser menjadi subhat, kecuali jika sudah ada penjaminan dari orang atau lembaga yang terpercaya. Titik kritis inilah yang ada hampir pada semua makanan/produk yang ada di sekitar kita.

Contoh titik kritis adalah produk yang menggunakan bahan-bahan turunan hewani, seperti lemak, protein, gelatin, kolagen, turunan asam lemak (E430-E436), garam atau ester asam lemak (E470-E495) gliserol, asam amino, produk turunan susu (keju, whey, laktosa, kasein/kaseinat), dan sebagainya. Nah, bahan-bahan turunan hewani di atas haruslah berasal dari hewan halal dan disembelih dengan cara yang sesuai syariat Islam.

Tumbuhan (bahan nabati) pada dasarnya adalah halal. Namun jika diproses menggunakan bahan tambahan atau bahan pembantu yang tidak halal, makan bahan tersebut menjadi tidak halal. Oleh karena itu perlu diketahui alur proses produksi beserta bahan tambahan dan bahan pembantu yang dipergunakan dalam memproses suatu bahan nabati.

Berikut ini beberapa contoh bahan nabati yang mungkin menjadi titik kritis:
• Tepung terigu diperkaya dengan berbagai vitamin antara B1, B2, asam folat.
• Oleoresin (cabe, rempah dll) dapat menggunakan emulsifier (contoh: polysorbate/tween dan glyceril monooleat yang mungkin berasal dari hewan), supaya larut dalam air.
• Lesitin kedelai mungkin menggunakan enzim fosfolipase dalam proses pembuatannya.
Hydrolized Vegetable Protein (HVP) perlu diperhatikan jika proses hidrolisisnya menggunakan enzim.

Jadi, kembali ke persoalan kosmetika di atas, meskipun semua bahan dasarnya nabati, belum tentu halal. Karena ada kemungkinan prosesnya dicampur dengan bahan yang tidak halal. Jadi gimana dong doremon? (nobita mode on:) Pilihlah kosmetika yang sudah tersertifikasi halal, insya Allah kecantikan yang terpancar dari pemakai kosmetika itu lebih sempurna, karena lahir dari hati yang tentram tanpa keragu-raguan.#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s