Dicari: Furqon yang Hilang

Bukan, di sini saya tidak sedang mencari seorang anak usia belasan yang bercelana pendek hitam dan berkaos oblong, berambut hitam keriting, yang biasa saya temukan pamfletnya di angkot-angkot. Saya juga bukan mencari mesjid UPI (al-Furqon) yang memang sampai kini masih ada bahkan kini terkesan lebih jumawa . Dan tentu ini juga bukan sekuel KCB karya Kang Abik edisi sinetron Ramadhan.

Ceritanya begini, beberapa hari lalu, saat tilawah Quran selepas Maghrib, saya membaca surat Al-Anfal ayat ke-29, yang terjemahannya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqon (kemampuan membedakan antara yang hak dan yang batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu…

Furqon, secara bahasa berarti pembeda (lihat di kamus.javakedaton.com). Saya mengenal kata ini sebagai sebuah kata sakti metode perjuangan Islam. Padanya dimaknakan furqon sebagai non-kooperatif: tidak ada kompromi, tidak ada kerjasama dan toleransi. Furqon, adalah dinding penyekat antara Islam vis a vis Jahiliyah.

Nah, tidak berhenti sampai di tataran harakah, furqon juga harus menjadi sikap pribadi mukmin. Kalau ayat di atas kita renungkan lagi, nyatalah bahwa furqon adalah indikator ketakwaan. Dan takwa adalah urusan personal. Orang yang bertakwa, salah satu cirinya adalah kemampuan berfurqon: membedakan hak dan batil, dan lalu tentu memilih yang hak, menolak yang batil.

Nampaknya, furqon ini memang telah menjadi langka, untuk tidak mengatakannya hilang.

Banyak di antara kita yang mengaku beriman, namun pada saat diuji dengan disodori pilihan hak atau batil, lebih senang mencampuradukkan keduanya, lalu mencari-cari pembenaran untuk pilihannya itu. Padahal, mencampuradukkan hak dan batil adalah kebatilan juga.

Seorang guru-mukmin yang bertakwa, tentu akan memilih menjadi guru yang punya sikap furqon: tidak akan memberi bocoran soal dan jawaban ujian bagi anak-anak didiknya, apapun resikonya, siapapun yang menyuruhnya. Kalau masih dipaksa juga? Tentu dia lebih memilih mengajar di sekolah yang lain, yang lebih ramah bagi keimanannya.

Seorang pedagang-mukmin yang berfurqon tentu tidak akan mengurangi timbangan, mengoplos tapi mengatakan murni, memberi label halal palsu, memberikan nota kosong pada pembeli dan sebagainya.

Pegawai-mukmin yang memiliki furqon, tentu tidak akan membuat-buat laporan palsu dengan kuitansi palsu, untuk membuat sebuah pekerjaan dan proyek palsu. Kalau dipaksa atasan bagaimana? Tentu saja memilih pekerjaan lain di tempat lain adalah lebih mulia dan lebih mencerahkan masa depan (baca: akhirat)-nya.

Karenanya, kalau ada yang mengaku beriman, mengharapkan takwa, namun masih saja gagap membedakan kebenaran dan kebatilan, atau masih saja bermain-main dengan mencampuradukkannya, itulah tanda ketakwaan palsu. Semoga Allah melindungi kita dari hal-hal seperti itu.#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s