Ramadhan: Doa dan Makanan

Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka di tiap siang dan malam bulan Ramadhan, dan sesungguhnya tiap muslim yang berdoa, maka akan dikabulkan baginya.” (HR. Al-Bazzaar, Ahmad, Ibnu Majah).

Salah satu keistimewaan Ramadhan adalah janji mustajabnya doa-doa. Selain hadits di atas, rangkaian ayat Al-Quran yang berisi perintah puasa di surat Al-Baqarah pun diikuti dengan perintah berdoa.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. 2:186)

Ada juga hadits lain yang meriwayatkan siapa saja yang tidak ditolak doanya, yaitu: pemimpin yang adil, mujahid di jalan Allah, dan orang-orang yang berpuasa hingga dia berbuka. Atau riwayat lain lagi: pemimpin yang adil, musafir yang melakukan perjalanan bukan dalam rangka ma’shiat dan orang yang berpuasa. Selalu ada orang yang berpuasa pada keduanya.

“…Maka hendaklah mereka itu mengistijabah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku. Dan agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Istijabah bermakna memenuhi seruan-seruan Allah saat Ia memanggil kita menuju kebaikan, keberkahan dan sesuatu yang membuat kita hidup sebenar hayat.

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Allah dan Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu…” (QS. Al-Anfaal: 24)

Salah satu seruan yang menghidupkan itu adalah seruan kepada jiwa-jiwa beriman tentang makanan.

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 172)

Ada sebuah kisah yang diceritakan Nabi SAW. Suatu hari ada seorang musafir kehabisan bekal dalam perjalanannya di tengah padang pasir di bawah terik matahari yang membara. Wajahnya penuh debu, tenaganya tinggal sisa-sisa dalam rangkakan yang dipenuhi harap-harap terakhir. Dengan kekuatan terakhir yang dimiliki, diangkatnya kedua lengannya tengadah, “Ya Rabb.. Ya Rabb.. Ya Rabb..”

Sesungguhnya orang ini memiliki aneka syarat untuk dijawab dan dikabulkan doanya: musafir, bertauhid (hanya berharap pada Allah), dan mengangkat tangannya pada Allah. Padahal Allah malu jika ada tangan terangkat berharap pada-Nya lalu Ia tak memberi karunia. Hal-hal yang dalam dirinya telah memenuhi kondisi untuk terjawabnya doa. “Tetapi,” kata Sang Nabi, “bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan, sementara makanan yang ada di perutnya dari barang haram, pakaian yang dipakainya dari barang haram?!!”

Dalam riwayat lain, Saad bin Abi Waqash mengajukan permintaan kepada Nabi Muhammad SAW: Ya Rasulallah, doakanlah aku kepada Allah agar doa-doaku mustajab.” Rasulullah tidak langsung mengiyakan. Beliau tersenyum lalu bersabda, “Wahai Saad, bantulah aku dengan memperbaiki makananmu, bantulah aku dengan memperbaiki makananmu.”

Ramadhan, dalam makna yang dekat dengan perut adalah saat kita mampu menjaga makanan kita agar terjaminkan kedekatan agung dengan Allah. Di saat puasa, kita jaga pencernaan kita dari yang halal dan thayyib sejak terbit fajar hingga terbenamnya mentari semata karena mentaati Allah dan mencintai-Nya. Maka sungguh ia menjadi cermin, bahwa di luar Ramadhan, kita harus menjaganya dari yang syubhat dan yang haram. Jika dari yang halal saja kita bisa menjaga—selama Ramadhan–, maka dari yang syubhat, apalagi yang haram, insya Allah kita bisa. Kita bisa! Maka itulah makna puasa. Itulah produknya. Itulah taqwa dalam maknanya bagi perut kita: berhati-hatilah menjaga makananmu.

Karena sekerat daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih layak baginya. Karena darah yang mengalir dari saripati makanan haram, syaitan berselancar ria di pembuluh-pembuluhnya. Karena anggota tubuh yang dialirinya, mudah terresonansi oleh frekuensi kemaksiatan. Tergetar hati kita bukan oleh asma Allah, tetapi oleh selainnya. Berdesir jantung kita bukan oleh kalimat-kalimat-Nya yang suci mulia, tetapi justru oleh huruf, suara, dan rerupa yang menjijikan dan nista.

Belajarlah dari Ramadhan, belajar untuk menjaga kehalalan makanan.#(Heru)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s