Mari Menjadi Suami Shalih #3

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang membahas beberapa ciri/karakteristik suami shalih. Pada ciri yang pertama telah diketahui bahwa suami shalih adalah suami yang mampu memberikan nilai tambah kepada istrinya. Menjalankan fungsi pendidikan, mungkin ini kalimat yang bisa mewakili ciri yang pertama ini. Ciri kedua adalah menjalankan fungsi ekonomi. Seorang suami yang shalih adalah yang memiliki effort yang berketerusan untuk menafkahi istri—juga anak-anaknya, dengan nafkah yang halal dan baik.

Nah, apa ciri berikutnya? Semestinya Anda bisa menebaknya. Lihat saja ciri yang pertama berkaitan dengan fungsi pendidikan, yang mengurus potensi akal manusia; juga yang kedua berkenaan dengan fungsi ekonomi, itu adalah masalah jasad/fisik. Ciri ketiga tentu berkaitan pula dengan potensi manusia yang ketiga, yaitu…. (ya, benar, 100 buat Anda!): potensi hati, rasa, dan kata lain yang setara dengannya.

Namun, terus terang saja, saya rada sulit membagi bahasan tentang yang ketiga ini. Saya merasa belum layak berbagi di bagian ini, karena saya sendiri masih dalam tahap “gegesor”. Kalau bagian pertama dan kedua saya masih merasa PD untuk berbagi, tapi kalo yang ketiga, nanti dulu. Lebih baik saya alihkan dulu pembicaraan kita pada pusaran topik bagaimana semestinya seorang suami menjalankan fungsi ekonomi bagi istrinya.

Begini, dalam beberapa kali penjelajahan di dunia maya, untuk meningkatkan ilmu rumah tangga ini, saya sempat terenung pada sebuah judul kalimat presentasi seorang ustadz yang judulnya begini: Istri bukan Pembantu. Pada paparan itu terungkap beberapa dalil yang menunjukkan bahwa banyak rumah tangga kita di Indonesia ini, tercampurbaur antara budaya dan agama. Sikap-sikap suami kepada istrinya, sering dilegalisasi atas nama agama, padahal itu hanya budaya saja. Teori agama justru bertolak belakang dengan sikapnya itu.

Di saat kesendirian dulu, saya dan teman-teman sering mengangankan memiliki istri. Dalam angannya terungkap: “Enak ya kalo punya istri: mau makan ada yang masakin.., baju ada yang nyuciin, ada yang nyetrikain… Rumah selalu rapi karena ada yang ngerapihin…” Nah, bagi kawan-kawan saya para lajang yang kini sedang mengangankan itu, berhentilah. Seorang istri dinikahi, bukan untuk dijadikan pembantu. Tidak ada kewajiban bagi mereka untuk membantu kita dalam penyiapan makanan, pakaian dan sejenisnya. Bahkan sebaliknya, justru seorang suamilah yang wajib menyiapkan hal-hal itu untuk istrinya. Loh, kok kebalik?

Eggak. Justru selama ini pikiran kebanyakan kita yang sudah kebalik-balik. Mari kita simak kembali QS. An-Nisaa ayat 34: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

Ayat ini menegaskan bahwa kewajiban suami adalah memberi nafkah kepada istri, bukan kewajiban istri untuk memberi nafkah kepada suaminya. Sedangkan yang dimaksud dengan nafkah termasuk makanan minuman, pakaian dan tempat tinggal.

Memberi makan itu merupakan kewajiban suami kepada istri. Dan kalau disebut makanan, artinya bukan bahan mentah melainkan makanan yang siap disantap. Sehingga proses memasaknya bukan menjadi tugas dan tanggung-jawab istri.

Memberi pakaian itu adalah kewajiban suami kepada istri, bukan kewajiban istri kepada suami. Dan kalau disebut pakaian, artinya adalah pakaian yang bersih, wangi, rapi siap dipakai. Maka kalau baju itu kotor dan bau karena bekas dipakai, mencuci, menjemur dan menyetrikanya tentu menjadi kewajiban suami.

Memberikan tempat tinggal adalah kewajiban suami kepada istri, bukan kewajiban istri kepada suami. Dan kalau disebut tempat tinggal, artinya rumah dan segala isinya yang siap pakai dalam keadaan baik. Bila ada yang kotor dan berantakan, pada dasarnya membersihkan dan merapikan adalah tugas suami, bukan tugas istri. (Lebih lengkap, silakan lihat Istri bukan Pembantu, karangan Ust. Ahmad Sarwat).

Selain dalil Quran di atas, ada juga dalil sunnah, juga berbagai pendapat para imam madzhab yang secara umum berkesimpulan senada bahwa istri bukan pembantu.

Memang ada ulama kontemporer yang mewajibkan istri mengepel, menyapu, beres-beres rumah, sebagai bentuk imbalan atas nafkah dari suaminya. Namun tetap saja kewajiban suami untuk menafkahi istri, artinya seorang suami harus “menggaji” istrinya di luar urusan rumah tangganya.

Yang sering terjadi di kita adalah, seorang suami menyerahkan gajinya kepada istrinya, lalu kewajiban suami harus dibayarkan oleh istri dari gaji itu, kalau masih ada sisa, sisanya tetap jadi milik suami, tapi kalau kurang, si istri yang pusing tujuh keliling untuk mengatasinya.

Begitulah. Suami shalih adalah menafkahi istri, bukan menjadikan mereka sebagai pembantu.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s