Najis, Tidak Halal

Saya harus memulai tulisan ini dengan mencari hadits tentang keharaman kodok, yang tertinggal pada penutup tulisan sebelumnya. Setelah buka sana sini, ditemukanlah HR. Abu Dawud no 3373 yang terjemahannya sebagai berikut:
Dari Abdurrahman bin Utsman bahwa seorang tabib pernah bertanya kepada Nabi SAW mengenai kodok yang ia jadikan sebagai obat. Kemudian Nabi SAW melarang untuk membunuhnya.” (lihat juga hadits no. 4585 Sunan Abu Daud).

Sebagaimana diungkapkan oleh Ust. Sarwat (silakan jelajahi http://www.ustsarwat.com/) larangan membunuh suatu jenis hewan, oleh para ulama umumnya dikaitkan juga larangan untuk memakannya. Sehingga hukum akhirnya, kodok selain haram dibunuh, juga haram dimakan. Loh kok begitu? Ya iya juga sih, karena nggak mungkin kita memakan kodok, sambil menjaganya tetap hidup pada saat yang bersamaan.

Nah, selain kodok, apalagi yang tidak halal dimakan?

Kalau makanan itu bersumber dari non-hewan, maka makanan yang tidak halal adalah terkategori sebagai berikut:
1. Najis
Semua najis haram untuk dimakan, meskipun tidak semua yang haram adalah najis. Contohnya seperti racun adalah zat yang haram dimakan, tetapi tidak najis. Hal-hal yang termasuk najis adalah darah, nanah, muntah, mazi, wadi, tinja dan air kencing. Jadi, semua najis di atas, juga makanan yang terkontaminasi dengannya, haram untuk dikonsumsi.

Namun ada sedikit pembedaan mengenai makanan yang terkontaminasi najis. Jika makanannya berbentuk padat, maka yang najis hanya bagian yang terkena najis, namun daerah sekitarnya tetap halal. Jika berbentuk zat cair, dan jumlahnya sedikit, maka menjadi haram dikonsumsi. Namun jika cairan itu banyak, hukumnya tetap halal. Dari kategori ini, maka kita bisa tahu pasti bahwa black pudding, marus, lawar adalah tidak halal.

Gimana dong dengan daging yang pada saat dimasak masih ada darah-darahnya sedikit? Nah, untuk kasus seperti ini, dengan telah membersihkannya semaksimal mungkin, dan tidak bermaksud menyengaja memakan/meminum darah, maka hukumnya halal. Begitu kata Kang Abud, guru ngaji saya, juga beberapa bacaan yang saya temukan berkait dengan kenajisan darah ini.

Dalam kasus lain, darah yang najis itu adalah darah yang mengalir, bukan darah sisa-sisa luka yang sulit dibersihkan. Karenanya, sisa-sisa berbekam yang tampak menempel pada kulit kita, itu tidak najis. (Ini berdasar keterangan dari Kang Anas, salah seorang staf BRC, ketika saya tanya tentang darah bekam ini).

Kesimpulan: makanan yang ternajisi adalah tidak halal untuk dikonsumsi.

Itu saja yang tidak halal teh? Ada lagi yang lain: khamr, madharat, insya Allah dilanjutkan lagi nanti.#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s