Prinsip-prinsip Kehalalan Makanan

Pada beberapa kesempatan, masyarakat kita sempat heboh atau dihebohkan dengan berbagai pemberitaan yang berkaitan dengan kuliner. Saya masih ingat bahwa pernah ada kasus baso tikus, yang sempat menjatuhkan citra pedagang baso. Kasus ini lambat laun menghilang setelah para pedagang itu berdemo, hingga para pejabat setingkat gubernur bikin acara makan baso bersama untuk mengampanyekan bahwa makan baso itu aman. Ada juga kasus tahu berformalin, abon sapi tapi babi, jajanan anak berpewarna tekstil, dan sebagainya.

Pada kesempatan lain, banyak pertanyaan kita tentang produk makanan dari kodok, apakah halal? Sate kuda, halal ngga? Berobat dengan air kencing, boleh ngga? Peuyeum yang sudah lama, yang diyakini beralkohol, boleh dimakan ngga? Kalo sate kelinci gimana? Biawak bakar yang katanya buat kesehatan, boleh ngga?

Pertanyaan-pertanyaan tadi, membuktikan bahwa pemahaman kita tentang halal dan haram memang belum apa-apa. Kita (kita… Siapa kita?🙂 masih harus banyak belajar tentang Islam. Benarlah bahwa kewajiban menuntut ilmu itu terus wajib, sampai liang lahat menganga menyambut jenazah kita.

Nah, berdasarkan penelusuran saya (ciee…), ada beberapa hal yang menjadi prinsip kehalalan makanan:
Pertama: bahwa prinsip asal dari semua makanan adalah boleh dan halal sampai ada dalil yang menyatakan haramnya. “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (QS. Al-Baqarah: 29). Ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu–termasuk makanan–yang ada di bumi adalah nikmat dari Allah, maka ini menunjukkan bahwa hukum asalnya adalah halal dan boleh, karena Allah tidaklah memberikan nikmat kecuali yang halal dan baik.

Ibnu Taimiyah, dalam sebuah penelusuran, menyatakan, “Hukum asal padanya (makanan) adalah halal bagi seorang muslim yang beramal sholeh, karena Allah SWT tidaklah menghalalkan yang baik-baik kecuali bagi siapa yang akan menggunakannya dalam ketaatan kepada-Nya, bukan dalam kemaksiatan kepada-Nya.” (saya agak sulit menguji validitas penelusuran ini, terkait kelemahan bahasa Arab, tapi mudah-mudahan kutipan ini benar ya).

Oleh karena itu kita tidak boleh menolong orang dengan sesuatu yang mubah, jika akan digunakan untuk maksiat, seperti memberikan daging dan roti kepada orang yang akan minum-minum khamar atau akan menggunakannya dalam kejelekan. Begitu juga berdagang pada prinsipnya boleh, tetapi memperdagangkan barang-barang haram, hukumnya adalah haram.

Sedikit melebar dari pembicaraan, karena membaca kaidah ini, saya jadi ingat sebuah pertanyaan dari teman saya yang mau invest di usaha bidang laundry. Boleh ngga? Ya boleh dong, kata saya. Tapi perusahaan laundrynya membuang limbahnya ke sungai tanpa mengolahnya dahulu, hingga mencemari sungai itu. Masih bolehkah saya investasi di sana? Mmmm… Pake kaidah itu deh!

Oke, kembali ke prinsip makanan halal. Prinsip kedua: bahwa prinsip Islam dalam penghalalan dan pengharaman makanan adalah “Islam menghalalkan semua makanan yang halal, suci, baik, dan tidak mengandung madharat, demikian pula sebaliknya, Islam mengharamkan semua makanan yang haram, najis atau ternajisi, khabits (jelek), dan yang mengandung madharat”.

Dan Allah mensifatkan Nabi Muhammad dalam firman-Nya: “Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”. (QS. Al-A’raf: 157). Allah melarang melakukan apa saja, termasuk memakan makanan, yang bisa memadharatkan diri, dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”. (QS. Al-Baqarah: 195). Karenanya kita diharamkan mengonsumsi semua makanan dan minuman yang bisa memadharatkan diri–apalagi kalau sampai membunuh diri–baik dengan segera maupun dengan cara perlahan. Misalnya: racun, narkoba dengan semua jenis dan macamnya. Termasuk dalam kategori ini adalah rokok dan yang sejenisnya.

Ketiga: makanan manusia secara umum ada dua jenis, yaitu: 1) Non-hewani, terdiri dari tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, benda-benda, dan yang berupa cairan (air dengan semua bentuknya). Semua ulama sepakat bahwa jenis ini halal, kecuali yang mengandung madharat. 2) Hewan, yang terdiri dari hewan darat dan hewan air.

Hukum hewan darat adalah halal kecuali yang diharamkan oleh syari’at, yang rinciannya insya Allah akan kita bahas nanti ya.

Hewan air terbagi menjadi dua: hewan yang hidup di air yang jika dia keluar darinya akan segera mati, contohnya adalah ikan dan yang sejenisnya; dan hewan yang hidup di dua alam, seperti buaya dan kepiting.

Hukum hewan air bentuk yang pertama–menurut pendapat yang paling kuat–adalah mutlak halal untuk dimakan.
Adapun bentuk yang kedua dari hewan air, yaitu hewan yang hidup di dua alam, maka pendapat yang paling kuat adalah pendapat Asy-Syafi’iyah yang menyatakan bahwa halal kecuali kodok.

Kenapa kodok? Kodok haram karena ada hadits yang mengharamkannya. Mana haditsnya? Bentar dulu bro, saya lanjutkan dulu penelusurannya… Nanti dikabari ya. Sekarang mah mau sholat Maghrib dulu.#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s