Mari Menjadi Suami Shalih #2

Dalam hidup, ada masanya ketika kita jauh dari istri kita. Bisa karena banyak hal: pekerjaan, sekolah, jihad, dan sebagainya. Ini pula yang sedang saya alami sekarang. Dan inilah masa yang tepat untuk saya mengevaluasi perjalanan rumah tangga dengan istri tercinta. Evaluasi paling pertama tentu pada diri sendiri: sebagai suami. Itulah mengapa saya menulis catatan ini, yang merupakan tulisan kedua, setelah yang sebelumnya beberapa hari lalu.

Tulisan ini juga lebih banyak sebagai gerunjingan hati untuk diri saya sendiri, meski tidak menutup kesempatan bagi siapapun yang akan mengambil manfaat, jika ada benar yang bisa diamalkan. Itulah mengapa saya juduli dengan kalimat persuasif, mari menjadi suami shalih.

Nah, setelah kita mengetahui di tulisan kemarin bahwa salah satu ciri suami shalih itu adalah memberikan ‘nilai tambah’ pada istrinya berupa ilmu, wawasan, keterampilan, dan sebagainya, kini saatnya saya sampaikan ciri yang kedua. Apakah itu?

Memberi nafkah. Ya, nafkah. Nafkah adalah kewajiban seorang suami pada istrinya, meskipun istrinya lebih kaya, atau dianya punya penghasilan sendiri.

Ini adalah hal prinsip dalam rumah tangga muslim. Bahwa seorang suami wajib menafkahi istri dan anak-anaknya. Seberapapun mampunya. Tidak pernah hapus kewajiban menafkahi ini, meskipun sekali lagi, istrinya lebih kaya atau lebih besar gajinya.

Kanapa? Di sinilah letak kemuliaan Islam yang memuliakan kaum wanita. Setelah masa pra-nikah wanita berhak mengajukan besarnya mahar, pasca-nikah wanita berhak pula menerima nafkah dari suaminya. Tegasnya, kewajiban suami menafkahi istrinya.

Maka seorang suami shalih, tidak akan mungkin menelantarkan istrinya, sementara dia tidak bekerja dan berusaha berpendapatan. Meski misalnya dia sudah terikat pada program jihad, atau pada tugas dakwah, yang memang wajib, namun menafkahi istri juga tidak hapus (wajibnya) karenanya.

Seperti apa sih menafkahi itu? Seberapa besar? Target minimalnya tentu tercukupi kebutuhan primer berupa sandang, pangan dan papan.

Dalam banyak kasus di masyarakat kita saat ini, ada seorang istri yang bekerja keras bahkan sampai jadi TKW di luar negeri, sementara suami di negeri sendiri hanya ongkang-ongkang kaki, udud sambil ngopi. Ini adalah kezaliman besar. Memang banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, namun bukan di sini saya membahasnya. Hal utama keterjadian itu adalah karena suami yang tidak shalih, yang tidak mencari nafkah, dan membiarkan istri pergi bekerja jadi TKW dengan mengobankan keislamannya. Bukankah ada adab seorang wanita ketika keluar rumah mesti bersama mahramnya?

Maka, di sini saya ingin mengajak kepada para suami semua, mari kita jaga izzah kepemimpinan kita, mari kita buktikan keshalihan kita, mari kita cegah kemungkaran yang (mungkin) akan diperbuat istri kita, dengan cara menafkahi mereka. Tentu dengan cara halal dan thayyib.

Jadilah suami shalih, berilah istri kita nafkah! Ituh!#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s