Surat Cinta untuk Neng Tercinta

Inilah salah satu ujian kehidupan. Saat di masa tak semua yang diinginkan bisa ada di hadapan. Begitulah saya ketika jauh dari istri. Mendadak-dadak bisa menulis surat cinta. Ah, tak tahu lah awak akan baik tidaknya surat cinta ini. Pas lagi buka arsip tulisan, saat sedang sambil sembari mengenang kebersamaan, kutuliskan di sini kembali surat cintaku pada dia, tertanggal 22 Januari, 3 tahun yang lalu…

Assalaamu’alaikum
Hamdan lillah. Shalatullah wasalamuhu ‘ala rasulillah.

Halo, Sayang, apa kabar? Kangen rasanya raga ini ingin ketemu. Neng juga begitu kan? Yah, tidak apa-apa ya, Sayang. Semoga kesabaran kita mendapat balasan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Untuk kita, kita bersama. Pesan Aa selalu pada Neng-Sayang: pegang teguh ikatan dengan Allah, dimanapun Neng berada. Jaga diri dari kemungkinan jebakan-jebakan setan la’natullah.

Neng, hari demi hari Aa makin cinta pada Neng. Cinta itu terbukti. Terbukti saat Aa bisa merasa apa yang Neng rasa. Neng masih inget kan saat Aa sms Neng suatu siang. Saat itu Aa sedang dibengkel. Entah kenapa, jantung ini berdetak lebih kencang dari biasanya, perasaan juga tak nyaman. Padahal Aa sedang di ruang ber-AC, ruang tunggu bengkel yang cukup mewah. Aa sms Neng sekadar bertanya kabar. Ternyata Neng membalasnya dengan bertelepon. Neng cerita tentang ketidaknyamanan di rumah siang itu, saat si Ibu bilang ke Mambah bahwa Neng maksa dia bayar utangnya. “Malam ini kita menginap di Ciwaruga ya,” begitu ajak Neng waktu itu, sebuah kalimat menutup rangkaian ekspresi kekesalan. Aa tahu, Sayang. Aa bisa merasakan kejengkelan Neng waktu itu.

Dan cinta itu ternyata tak bertepuk sebelah tangan. Aa yakin, Neng juga cinta Aa. Karena Sabtu siang itu, selepas pertemuan dengan orangtua yang cukup menguras energi, Aa baru sempat membuka Nye2 yang didalamnya sudah ada tulisan pendek: “ayank tabah ya”, diterima 08.56 WIB. Padahal jam segitu pertemuan belum dimulai. Namun seolah Neng sudah merasa apa yang akan Aa rasakan beberapa menit berikutnya. Subhanallah… Terima kasih ya, Sayang, atas cinta dan perhatiannya.
Maka dari sini marilah kita bersama memuarakan cinta kita kepada Allah. Allah yang mencintai kita, lebih hebat dibanding kecintaan kita pada diri kita sendiri. Cintailah Allah, Sayangku. Cintailah Dia dengan memperbanyak amal sunnah, setelah tunainya semua yang fardhu. Maka rasakanlah Dia dalam keadaan apapun, dan dimanapun adanya kita. Rasakanlah hadirnya Dia, Dia yang juga mencintai kita.

Marilah kita berupaya memahami HR. Bukhari, yang bertutur tentang firman Allah:
…Tidaklah sekali-kali seorang hamba mendekatkan dirinya kepada-Ku sebagaimana yang telah kufardhukan atas dirinya, dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan dirinya kepada-Ku melalui amalan-amalan nawafil hingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku mencintainya, Aku menjadi telinganya yang digunakan untuk mendengar, menjadi matanya yang digunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang digunakan untuk memegang, menjadi kakinya yang digunakan untuk berjalan. Oleh karena itu dia mendengar bersama-Ku, melihat bersama-Ku, memegang dan berjalan bersama-Ku. Jika dia meminta kepada-Ku, niscaya benar-benar aku akan memberinya. Dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya aku benar-benar melindunginya…

Begitulah, Sayang. Kita tidak boleh berhenti di sini. Di tempat kita saling mencintai. Marilah kita—bersama-sama–mencintai Allah, agar lenyaplah segala kekhawatiran hidup kita, karena kita dilindungi Allah Yang Maha Perkasa. Insya Allah.

Wassalam
Aa, yang mencinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s