Mari Menjadi Suami Shalih #1

Kover buku yang entah di mana sekarangDalam banyak kajian, baik itu di buku, majelis ta’lim, siaran dakwah radio dan TV, sering dikupas tentang karakteristik istri shalihah. Di sana di bahas bagaimana Islam mengatur sedemikian rupa agar seorang wanita bisa terkategori shalihah di hadapan Allah, berperan di keluarga dan masyarakatnya. Namun sedikit sekali kajian yang membahas tentang bagaimana menjadi lelaki/suami shalih. Dulu saya pernah punya buku rada tebal karangan Ust. Abu Jibril yang berjudul Karakteristik Lelaki Shalih. (Buku itu kini entah di mana, biasanya sih ada yang minjem dan lupa balikin. Salah saya juga sih, kenapa yang punya bukunya malah ga tau siapa yg minjem. Ya sudahlah.) Tapi selepas itu, tak pernah lagi saya menemukan buku yang membahas bagaimana sejatinya seorang lelaki/suami yang adalah imam bagi para wanita itu. Ini berbeda dengan buku tentang wanita yang ‘pabalatak’ di mana-mana.

Padahal, menurut saya, lelaki yang shalih, lebih dibutuhkan keberadaannya dibandingkan dengan wanita yang shalihah. Lelaki yang tidak shalih, lebih berbahaya dibandingkan dengan perempuan yang tidak shalihah. Mengapa demikian? Ya, karena lelaki shalih, jika ia jadi suami, akan bisa mempergunakan peran kepemimpinannya untuk menjadikan istrinya lebih shalihah. Namun belum tentu seorang istri shalihah bisa menjadikan suaminya lebih shalih. Betul ngga? Banyak kan istri yang rajin ngaji, tapi suaminya rajin judi? Jarang terdengar suami yang rajin ke mesjid sementara istrinya rajin ke diskotik.

So, bagi rekan-rekan saya sesama lelaki, teruslah perbaiki diri agar menjadi shalih sedidamba para istri. Nah, di sini saya ingin sharing, bahwa setidaknya ada tiga hal yang mesti ada pada seorang suami yang shalih. Tiga hal ini saya dapatkan dari sebuah talkshow radio dengan seorang ustadz tidak terkenal hingga saya lupa namanya, semoga Allah membimbingnya selalu.

Pertama, seorang suami shalih adalah seorang yang mampu memberikan nilai tambah kepada istrinya. Nilai tambah? Maksudnya? Ya, seorang suami harus bisa memberikan manfaat kepada istrinya sehingga istrinya meningkat ilmunya, keterampilannya, ketenangannya, kebaikannya, dan sebagainya.

Kalau para wanita, sesudah mereka menikah dibanding dengan sebelumnya, tidak ada peningkatan ilmu, wawasan, keterampilan, kecerdasan, maka para suami itu belum benar-benar berada pada keshalihannya. Seorang suami yang shalih semestinya bisa mengajar ngaji pada istri, membimbing praktek ibadah, mencegah dari perbuatan buruk, mentransfer ilmu dan pemahaman, melatih keterampilan, dan sebangsanya.

Wah, tapi gimana dong kita-kita sebagai suami juga kan terbatas ilmunya? Nah, kalo memang begitu keadaannya, izinkanlah para istri itu untuk menuntut ilmu di majelisnya, mengikuti kursus keterampilannya, dan sebagainya. Izin seorang suami, yang terbatas kemampuannya tadi, kepada istri agar meningkat dan memiliki nilai tambah dibanding sebelumnya, mudah-mudahan dicatat sebagai bagian dari ciri suami yang shalih.

Yuk ah, mari kita menjadi suami yang shalih, dengan memberikan nilai tambah yang dapat dirasai istri kita.
Masih ada yang kedua dan ketiga, nanti disambung lagi ya. Cekap heula.#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s