Ekstase Mi’raj dan Berhala Kekhusyuan

Alhamdulillah, ya Allah saya bersyukur kepada-Mu. Inilah salah satu bukti bahwa dunia ini lebih banyak nikmatnya dibandingkan dengan susah. Tidak terasa sudah ada di bulan Rajab lagi. Inilah bulan spesial, salah satu dari 4 bulan spesial dalam kalender Islam.

Di bulan ini, kita diingatkan kembali untuk memaknai shalat kita. Ya, karena pada peristiwa Isra Mi’raj yang terjadi di bulan inilah kewajiban shalat secara langsung diinstruksikan Allah kepada Rasul-Nya SAW.

Shalat kita, sesungguhnya salah satu pilar saja dari bangunan Islam. Jadi, kalau ada yang menjadikan shalat, dengan kenikmatan khusyunya sebagai tujuannya, maka sejatinya dia bukan pengamal Islam yang paripurna. Nah, di tengah maraknya pelatihan-pelatihan shalat khusyu, atau nampak khusyu, tulisan Salim A. Fillah di bawah ini, bisa menjadi renungan.

Selamat menyimak bahasa indah dari guru cinta saya, dan istri saya. Ustadz yang lucu.

Ekstase Mi’raj

July 7, 2008 by salim-a-fillah

Sekiranya ku menjadi Muhammad

Takkan sudi ku beranjak ke bumi

Setelah sampai di dekat ’Arsyi

’Abdul
Quddus, 
Sufi Ganggoh

Buraq
namanya. Maka ia serupa barq,
kilat yang melesat dengan kecepatan cahaya. Malam itu diiring Jibril,
dibawanya seorang Rasul mulia ke Masjidil Aqsha. Khadijah, isteri
setia, lambang cinta penuh pengorbanan itu telah tiada. Demikian juga
Abu Thalib, sang pelindung yang penuh kasih meski tetap enggan
beriman. Ia sudah meninggal. Rasul itu berduka. Ia merasa sebatang
kara. Ia merasa sendiri menghadapi gelombang pendustaan, penyiksaan,
dan penentangan terhadap seruan sucinya yang kian meningkat seiring
bergantinya hari. Ia merasa sepi. Maka Allah hendak menguatkannya.
Allah memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda kuasaNya.

Buraq
namanya. Ia diikat di pintu Masjid Al Aqsha
ketika seluruh Nabi dan Rasul berhimpun di sana. Mereka shalat. Dan
penumpangnya itu kini mengimami mereka semua. Tetapi dari sini Sang
Nabi berangkat untuk perjalanan yang menyejarah. Disertai Jibril ia
naik ke langit, memasuki lapis demi lapis. Bertemu Adam, Yahya serta
’Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Lalu terus ke
Sidratul Muntaha, Baitul Ma’mur, dan naik lagi menghadap Allah
hingga jaraknya kurang dari dua ujung busur. Allah membuka tabirNya..

Allah.. Allah.. Jika melihat Yusuf yang tampan
sudah membuat jari para wanita teriris mati rasa, apa gerangan rasa
melihat Sang Pencipta yang Maha Indah? Atau katakan padaku shahabat,
apa yang kau rasakan saat melihat Ka’bah yang mulia untuk pertama
kalinya? Ya, sebuah ekstase. Kita haru. Kita syahdu. Air mata
menitik. Raga terasa ringan. Jiwa kita penuh. Mulut kita ternganga.
Maka apa kira-kira yang dirasakan Muhammad, Shallallaahu
’Alaihi wa Sallam
 ketika ia mi’raj
bertemu Rabbnya? Kesyahduan. Keterpesonaan. Kesejukan. Kenikmatan
ruhani. Kelegaan jiwa. Tiada tara. Tiada tara. Tiada tara.

Demi Allah, alangkah indahnya, betapa nikmatnya..

 Maka
ada benarnya Sufi Ganggoh itu. Di saat
mengalami puncak kenikmatan ruhani itu, tentu ada goda untuk bertahan
lama-lama di sana. Kalau bisa, kita ingin
menikmatinya selamanya. Atau setidaknya mengulanginya. Lagi dan lagi.
Kesyahduan yang tak terlukiskan, ruhani yang terasa penuh,
berkecipak, mengalun. Jiwa yang terpana bagaikan titik air menyatu
dengan samudera, kedirian kita hilang lenyap ditelan kemuliaan dan
keagungan Ilahi. Kita ingin mereguknya, menyesapnya, lalu rebah,
dipeluk, direngkuh, dan menyandarkan hati di situ saja.
Selama-lamanya.

Kenikmatan ruhani. Kekhusyu’an batin. Kita pasti
ingin menikmatinya selalu. Kita menghasratkannya tiap waktu.

Tetapi justru di situlah salahnya.

Justru di situlah kekeliruan terbesar kita.

Coba tengok perjalanan mi’raj Sang Nabi. Ia
tidak terjadi setiap hari. Ia terjadi sekali, hanya ketika deraan
rasa sakit, badai kepiluan, dan himpitan beban telah melampaui daya
tahan kemanusiaan. Ia terjadi ketika sang Rasul merasakan puncak
kepayahan jiwa; da’wah yang ditolak, seruan yang diabaikan,
pengikut yang tak seberapa, sahabat-sahabat yang disiksa, dan para
penyokong utama satu demi satu mencukupkan usia. Maka satu hal yang
kita maknai dari perjalanan mi’raj adalah, bahwa ia sekedar sebuah
waqfah. Ia
sebuah perhentian sejenak. Sebuah oase tempat Sang Nabi mengisi ulang
bekal perjalanannya. Bekal perjuangannya.

Mi’raj bukanlah titik akhir dari perjalanan itu.
Merasakan kenikmatan ruhani yang dahsyat
bukanlah tujuan dari perjalanan hidup dan risalahnya. Itulah yang
membuat Sang Nabi dan Sang Sufi dari Ganggoh bertolak belakang. Jika
Sang Sufi memandang ekstase kenikmatan ruhani itu sebagai tujuan
hidupnya, Sang Nabi sekedar menjadikannya sebuah rehat. Sejenak
mengambil kembali energi ruhani, mengisi ulang stamina jiwa. Sesudah
itu dunia menantinya untuk berkarya bagi kemanusiaan. Dan iapun, kata
Muhammad Iqbal dalam Ziarah Abadi,
menyisipkan diri ke kancah zaman.

Padaku
malaikat menawarkan
,

Tinggallah
di langit ini, bersama syahdu sujud-sujud kami

Bersama
kenikmatan-kenikmatan suci

Tidak!”,
kataku, ”Di bumi masih ada angkara aniaya

Di
sanalah aku mengabdi, berkarya,

berkorban

Hingga
batas waktu yang telah ditentukan.”

Inilah jalan cinta para pejuang. Para penitinya
bukanlah para pengejar ekstase dan kenikmatan ruhani. Mereka adalah
pejuang yang mengajak pada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf,
mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. Dalam kerja-kerja
besar itu, terkadang mereka  merasa lelah, merasa lemah, merasa
terkuras. Maka Allah menyiapkan mi’raj bagi mereka. Sang Nabi yang
cinta dan kerja da’wahnya tiada tara itu memang mendapat mi’raj
istimewa; langsung menghadap Allah ’Azza
wa Jalla
. Kita, para pengikutnya,
berbahagia mendapat sabdanya, ”Saat mi’raj seorang mukmin adalah
shalat!”

Shalat, kata Sayyid
Quthb, adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dan kekuatan
yang abadi. Ia adalah waktu yang telah dipilih
untuk pertemuan setetes air yang terputus dengan sumber yang tak
pernah kering. Ia adalah kunci perbendaharaan yang mencukupi,
memuaskan, dan melimpah. Ia adalah pembebasan dari batas-batas
realita bumi yang kecil menuju realita alam raya. Ia adalah angin,
embun, dan awan di siang hari di siang hari bolong nan terik. Ia
adalah sentuhan yang lembut pada hati yang letih dan payah.

Maka shalat adalah rehat. Ketika tulang-tulang
terasa berlolosan dalam jihad, rasa kebas di otot dan kulit berkuah
keringat, Sang Nabi bersabda pada muadzinnya, ”Yaa
Bilal, Arihna bish shalaah
.. Hai Bilal,
istirahatkan kami dengan shalat!”

Berhala
Kekhusyu’an

Seorang musafir berhenti
di sebuah Masjid. Ia lelah, gerah, penat, pegal, dan pening.
Terlebih, sepanjang jalan ia merasa sepi di tengah ramai, dan asing
di tengah khalayak. Di masjid itu ia
menemukan ketenangan. Wudhunya serasa membasuh seluruh jiwa raga.
Ketika air itu menyapu, ia seperti bisa melihat noktah-noktah hitam
dosanya luntur berleleran, mengalir hanyut bersama air. Dalam
shalatnya ia benar-benar merasa berdiri di hadapan Sang Pencipta.
Tiap bacaannya seolah dijawab olehNya. Ia merasakan getar keagungan.
Ini pertama kalinya ia bisa terisak-isak dalam sujudnya. Hatinya
diselimuti perasaan tenteram, sejuk, penuh makna. Dia merasakan
sebuah ekstase.

Saat lain ia lewat di masjid itu. Ia
memang sengaja ingin shalat di sana. Ia rindu kekhusyu’annya.
Masjid ini memancarkan keagungan. Pilar-pilarnya tegak kokoh,
berlapis marmer kelabu. Kolom-kolom setengah lingkarannya manis
dengan ukiran geometris. Lampu-lampunya remang dibingkai logam
mengilat bersegi delapan. Lantainya lembut menyambut tiap sujud,
dingin menyejukkan khas granit hitam.

Ia memilih shalat di sebalik tiang berbalut
kuningan yang berukir ayat suci. Ia mencoba
menghayati shalatnya. Tapi aneh. Kali ini, ia tak menemukan getar
itu. Ia kehilangan kekhusyu’annya. Benar. Ia kehilangan semua
perasaan itu. Tak ada ekstase. Tak ada kelezatan ruhani. Tak
setitikpun air matanya sudi meleleh. Dalam sesal ia menguluk salam.
Ke kanan, lalu ke kiri. Dan matanya menumbuk terjemah sebuah
kaligrafi di dinding selatan. Terbaca olehnya, ”Barangsiapa mencari
Allah, ia mendapatkan kekhusyu’an. Barangsiapa mengejar
kekhusyu’an, ia kehilangan Allah.”

♥♥♥

Alangkah malang para penyembah kekhusyu’an.
Khusyu’ menjadi tujuan, bukan sarana menuju Allah Subhanahu
wa Ta’alaa
. Maka perhatian utama
dalam shalatnya terletak pada bagaimana caranya agar khusyu’, atau
setidaknya terlihat khusyu’. Ayuhai, andai kau tahu bagaimana Sang
Nabi dan sahabat-sahabatnya shalat. Mereka mendapatkan kekhusyu’an
bukan karena mencarinya. Mereka khusyu’ karena shalat benar-benar
perhentian dari aktivitas maha menguras di sepanjang jalan cinta para
pejuang. Mereka khusyu’ karena payahnya diri dan kelelahan yang
membelit melahirkan rasa kerdil dan penghambaan sejati.

Seperti para penyembah
Al Masih merumit-rumitkan trinitas ketuhanan, berhala kekhusyu’an
juga sering disulit-sulitkan. Tak salah sebenarnya mengutip kisah
bahwa ’Ali ibn Abi Thalib meminta dicabut panahnya ketika beliau
shalat. Agar sakitnya tak terasa karena khusyu’ shalatnya. Tak
salah juga meneladani ’Abbad ibn Bisyr yang tetap melanjutkan
shalat meski satu demi satu anak panah mata-mata musuh menancap di
tubuh. Tapi apakah hanya itu yang disebut khusyu’?

Sang Nabi adalah manusia yang paling khusyu’.
Dan alangkah indah kekhusyu’annya. Kekhusyu’an yang seringkali
mempercepat shalat ketika terdengar olehnya tangis seorang bayi. Atau
memperpendek bacaan saat menyadari kehadiran beberapa jompo dalam
jama’ahnya. Kekhusyu’an yang tak menghalanginya menggendong
Umamah binti Abil ’Ash atau Al Hasan ibn ’Ali dalam berdirinya
dan meletakkan mereka ketika sujud. Kekhusyu’an yang membuat
sujudnya begitu panjang karena Al Husain ibn ’Ali main kuda-kudaan
di punggungnya.

Sahabat, inilah jalan
cinta para pejuang. Khusyu’ dan gelora kenikmatan ruhani hanyalah
hiburan dan rehat, tempat kita mengisi kembali perbekalan dan melepas
penat. Ini adalah jalan cinta para pejuang. Bukan jalan para pengejar
kenikmatan ruhani, hingga harus mengulang-ulang takbiratul ihram
sampai sang imam ruku’. Ini bukan jalan para penikmat kelaparan
yang ketakutan berkumur saat puasa tapi diam saja menyaksikan
kezhaliman. Juga bukan jalan penikmat Ka’bah yang kecanduan berhaji
sementara fakir miskin lelah mengetuk pintu rumahnya yang selalu
terkunci.

Senarai sejarah memberi pelajaran tentang para pengejar kenikmatan
ruhani. Mereka jauh terlempar dari jalan cinta ini. Ada yang merasa
diri menjadi mukmin yang baik; karena bisa menangis saat shalat, bisa
terharu saat membagi zakat, bisa berdzikir hingga hilang kesadaran
saat berpuasa, atau berhaji setahun sekali; terbuta mereka dari dunia
Islam yang serak memangil-manggil.

Inilah mereka yang selalu bicara agama sebagai
urusan pribadi. Urusan pribadi untuk menikmati kesyahduan spiritual.
Bagi mereka, alangkah nikmatnya shalat khusyu’ di atas sajadah
mahal, dalam ruangan berpendingin, dengan setting pemandangan yang
bisa diatur berganti-ganti. Khusyu’ adalah menikmati bacaan imam
bersertifikat dari audio premium, dalam hembusan harum parfum
aromaterapi. Jauh di sana, di jalan cinta para pejuang, Sang Nabi
shalat di sela-sela jihad menegakkan syari’at. Dengan debu, dengan
darah, dengan lelah, dengan payah.

Yang lain, mencari pelarian dari tekanan dunia
yang menghimpit. Menikmati rasa tenteram
karena dzikirnya, rasa melayang karena laparnya, rasa syahdu karena
gigil tubuhnya. Ia bertapa dalam pakaian campingnya, hidup dalam
kefakirannya, lalu merasa menjadi makhluq yang paling dicintai Allah.
Tapi tak pernah wajahnya memerah ketika
syari’at Allah dilecehkan. Tak pernah ia merasa terluka melihat
kezhaliman. Tak pernah hatinya tergetar melihat nestapa sesama.
Orang-orang semacam si Sufi dari Ganggoh. Dialah si burung unta yang
merasa aman saat membenamkan kepalanya ke dalam pasir. Padahal
tubuhnya terguguk tepat di depan pelupuk pemburu.

Ekstase. Kenikmatan ruhani. Kekhusyu’an.
Jangan kau kejar rasa itu. Dia bukan tuhanmu. Dan tak hanya seorang
muslim yang beroleh kemungkinan merasakan ekstase macam itu. Tanyakan
pada seorang beragama Budha, penganut Zen, Tao, atau praktikan Yoga.
Merekapun mengalaminya lewat meditasi dan rerupa puja. Seorang
Nasrani dari Ordo Fransiskan yang melarat merasakannya dalam
pengembaraan bertelanjang kaki ala kemiskinan Kristus. Seorang
Nasrani dari Ordo Benediktin yang mewah menikmatinya dalam mengoleksi
relik-relik suci peninggalan para bapa gerejawi.

Bukan itu.

Bukan itu yang kita cari.

Di jalan cinta para pejuang, berbaktilah pada
Allah dalam kerja-kerja besar da’wah dan jihad.
Menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman.
Larilah hanya menujuNya. Meloncatlah hanya ke haribaanNya. Walau duri
merantaskan kaki. Walau kerikil mencacah telapak. Sampai engkau
lelah. Sampai engkau payah. Sampai keringat dan darah tumpah. Maka
kekhusyu’an akan datang kepadamu ketika engkau beristirahat dalam
shalat. Saat kau rasakan puncak kelemahan
diri di hadapan Yang Maha Kuat. Lalu kaupun pasrah, berserah..

Saat itulah, engkau mungkin melihatNya, dan Dia
pasti melihatmu..

source: http://salim-a-fillah.blog.friendster.com/2008/07/ekstase-miraj/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s