Kriteria Harta Wajib Zakat

Memberikan jawaban seperti yang saya tulis di sini beberapa waktu lalu, ternyata mendapatkan tanggapan balik yang menantang. Pada poin terakhir saya memberikan jawaban bahwa zakat atas hibah adalah 20%. Nah, ternyata karena ada beberapa hal, nampaknya angka ini terlalu berat untuk bisa dikeluarkan. Saya pun memahami alasannya. Namun tulisan tanggapannya tidak bisa saya copy di sini karena ada data-data yang sangat spesifik. Saya hanya bisa menanggapinya dengan seperti tertulis di bawah ini. Semoga saja pembaca mengerti.

===

Bismillah…

Ibu R, mohon maaf saya baru bisa kirim lagi tanggapannya. Saya bisa merasakan kesulitan yang Ibu alami mengenai masalah ini. Beberapa kali saya baca ulang tulisan saya, untuk melihat sisi-sisi lain yang mungkin perlu dilengkapi. Beberapa hari terakhir saya mencoba berkonsultasi dengan orang-orang yang saya anggap kompeten untuk menjawab masalah ini. Saya merasa ada “challenge” untuk mempelajari Islam lebih dalam lagi.

Menurut Ust. Sarwat (http://www.ustsarwat.com/ ), setidaknya ada 5 kriteria harta yang wajib dizakati:

1. Harta itu dimiliki secara sempurna (al-milkut-taam);

Yang dimaksud dengan harta yang dimiliki secara sempurna adalah seseorang memiliki harta secara sepenuhnya dan dia mampu untuk membelanjakannya atau memakainya, kapan pun dia mau melakukannya. Hal ini berbeda dengan seorang yang memiliki harta dengan tidak secara sempurna, yaitu di mana seseorang secara status memang menjadi pemilik, namun dalam kenyataannya, harta itu tidak sepenuhnya dikuasainya.

Kepemilikian Ibu atas sawah saat Ayah masih hidup, belum terkategori sebagai al-milkut-taam, karena Ibu hanya bisa mengakses beras sesuai kebutuhan bulanan saja. Jadi, Ibu tidak wajib zakat atas sawah pada saat Ayah masih hidup dulu, meskipun secara de-jure sawah itu milik Ibu.

Begitu pula kepemilikian Ibu atas rumah di Bandung saat ini. Karena Ibu tidak bisa memakainya, atau membelanjakannya, atau menjualnya kapan saja Ibu mau, maka ibu belum al-milkut-taam atas rumah itu. Karenanya, Ibu belum wajib zakat atas rumah itu.

2. Harta itu tumbuh (an-nama’);

Syarat kedua adalah bahwa harta itu adalah harta yang tumbuh atau bisa ditumbuhkan, harta itu tidak mati atau tidak diam. Harta itu dimiliki pokoknya namun bersama dengan itu, harta itu bisa memberikan pemasukan atau keuntungan bagi pemiliknya. Di antara contoh harta yang termasuk tumbuh adalah:

  • Uang yang diinvestasikan dalam sebuah perdagangan. Di mana perdagangan itu sendiri akan memberikan keuntungan, sementara uang yang menjadi modalnya tetap utuh.
  • Harta berbentuk usaha pertanian, dimana seiring dengan berjalannya waktu, para petani akan memanen hasil dari bibit yang ditanamnya. Pertumbuhan ini akan melahirkan konsekuensi kewajiban zakat. Sedangkan bila bibit tumbuhan itu tidak ditanam, maka tidak akan ada pertumbuhan, maka tidak ada kewajiban zakat.
  • 3. Harta itu memenuhi jumlah standar minimal (nishab);

Nishab masing-masing jenis harta sudah ditentukan langsung oleh Rasulullah SAW. Dan kalau dikomparasikan antara nisab jenis harta tertentu dengan nisab lainnya dari nilai nominalnya, maka sudah pasti tidak sama. Misalnya, nishab zakat emas adalah 85 gram. Sedangkan nisab zakat beras adalah 520 kg. Bila dinilai secara nominal, harga 85 gram emas itu berbeda dengan harga 520 kg beras. Kita tidak bilang bahwa ketentuan nisab ini tidak adil. Sebab yang menentukannya Rasulullah SAW sendiri. Dan kita perlu sadari, bahwa jenis harta itu memang berbeda-beda, maka wajar pula bila nilai nominal nisabnya pun berbeda pula.

4. Harta itu telah dimiliki dalam jangka waktu tertentu (haul);

5. Harta itu telah melebihi kebutuhan dasar.

Beberapa kriteria yang diungkap di atas itulah yang menjadi panduan wajib atau tidaknya zakat atas harta kita. Kalau melihat kriteria pertama saja, sudah tidak terpenuhi, maka belum ada kewajiban zakat atas rumah di Bandung.

Nah, pada jawaban lalu saya mengqiyaskan hibah yang diberikan oleh Ayah adalah sama dengan hadiah, sama dengan rikaz, hingga zakatnya sebesar 20%. Saya sempat berkonsultasi dengan Ust. Agah tentang pengqiyasan ini, beliau secara umum memang setuju bahwa namanya hibah (hadiah) itu ada kewajiban zakat di dalamnya. Meskipun, katanya, kapan pembayarannya itu disesuaikan dengan kemampuan, bagaimana membayarnya, apakah sekaligus atau boleh diangsur, itu disesuaikan dengan kemampuan. Dalilnya adalah “laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa”.

Namun saya juga sempat menjelajah internet tentang hibah ini, dan saya menemukan di beberapa situs antara lain:

http://www.rumahzakat.org/konsultasi.php

http://ramadan.okezone.com/zakat/read/2009/09/03/332/254006/simulasi-zakat-hadiah

http://pondokzakat.com/articles.php?lng=in&pg=27

dari sana ada sebuah keterangan:

Pertama, jika sumber hibah tidak diduga-duga maka zakat yang dikeluarkan sebesar 20%.
Kedua, jika sumber hibah sudah diduga dan diharapkan, maka hibah tersebut digabungkan dengan kekayaan yang ada, zakat yang dikeluarkan sebesar 2,5%.

Saya menilai, hibah Ayah kepada Ibu Rini itu sudah diduga, bukan sesuatu yang “surprise”, karena memang begitulah wajarnya seorang ayah kepada anaknya.

Kesimpulan:

  1. Wajibnya zakat atas hibah rumah di Bandung menunggu “kepemilikan penuh” terpenuhi.
  2. Besarnya zakat atas rumah itu adalah 2,5%, bukan 20% seperti yang saya ungkap sebelumnya.

Demikian, semoga Allah membimbing kita semua dalam menjalankan hukum-hukum-Nya. Wallahu a’lam.

Wassalam

Heru

===

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s