Bedakan Antara Waris, Wasiat dan Hibah

Beberapa hari merenungkan pertanyaan yang dikirimkan teman, tentang zakat atas ‘warisan’ yang diterimanya, yang juga saya tulis di sini beberapa hari yang lalu, yang lalu saya tuliskan permintaan untuk dijawabkan sama siapa saja yang mampu, yang ini kalimat kok ngga beres-beres, karena ingin menunjukkan anak dan induk kalimat dalam kalimat majemuk, tapi karena ini bukan tempat yang tepat, lebih baik tidak usah dibahas tentang kalimat majemuk, maka kini saya coba sharing tentang jawaban saya atas pertanyaan teman saya itu.

Tiada lain dari maksud dituliskannya jawaban itu di sini adalah barangkali ada beberapa di antara Anda sekalian yang berkenan untuk menyampaikan barang sepatah dua patah komentar, masukan, kritikan, dan plus minus dari jawaban saya itu, yang mana boleh jadi akan sangat dirasakan manfaatnya oleh yang bersangkutan, yang walaupun mungkin dia tidak membaca blog ini, saya bisa sampaikan pake media yang lain, misalnya email, karena pasti kalau email mah dia punya. (Tapi kan punya email ngga menjamin dia suka buka juga emailnya? wah…. gimana nih, jadi pusiiing).

Baiklah, begini jawaban saya:

Bismillahirrahmaanirrahim. Ibu R yang semoga dirahmati Allah. Terima kasih atas pertanyaan yang diajukan. Sebisa mungkin saya menjawab sependek pemahaman saya.  Saya mencoba merujuk kepada beberapa kajian fiqh praktis, salah satunya adalah dari Ust. Sarwat yang bisa dibuka webnya di http://www.ustsarwat.com/

Pertama sekali yang harus kita harus pahami di sini adalah perbedaan antara waris, wasiat dan hibah. Untuk lebih mudahnya saya tampilkan dalam tabel di bawah ini:

WARIS

HIBAH

WASIAT

Waktu

Setelah wafat

Sebelum wafat

Setelah wafat

Penerima

Ahli waris

ahli waris &

bukan ahli waris

bukan ahli waris

Nilai

Sesuai faraidh

Bebas

Maksimal 1/3

Hukum

wajib

Sunnah

Sunnah

Mohon maaf sebelumnya, Bu. Di sini saya ingin katakan bahwa perbuatan Ayah yang membagi-bagikan harta saat beliau masih hidup, itu kategorinya adalah hibah (hadiah), jadi bukan waris. Pada saat hibah itu dilakukan (bahkan dibuktikan dengan diurusnya sertifikat atas nama masing-masing anak), menunjukkan bahwa harta itu sudah berpindah kepemilikan. Jadi, pernyataan Ayah yang berpesan bahwa “sawah baru sepenuhnya dimiliki jika Ayah sudah tidak ada” adalah pernyataan yang bernuansa wasiat. Dan harus kita tahu bahwa ahli waris haram menerima wasiat dari pewarisnya (Ayah). Jadi gimana dong? Jadi, harap dicatat bahwa sejak ada pembagian sawah kepada anak-anaknya, sejak saat itulah sang anak memiliki hak atas sawah itu, dan memiliki kewajiban zakat atas penghasilan darinya.

Dengan pemahaman ini, maka beberapa pertanyaan ibu bisa dijawab:

  1. Zakat hasil pertanian wajib dikeluarkan setiap kali panen, jika hasil panen bersih (setelah dikurangi biaya perawatan: pupuk, obat, dll),  melewati nishab yaitu seberat 653 kg gabah atau sekira 520 kg beras. Jadi, kalau hasil panennya di bawah itu, maka tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Zakatnya adalah sebesar 5% jika memerlukan pengairan irigasi, dan 10% jika hanya menggunakan air hujan.

Idealnya, ibu langsung mengetahui sistem pengelolaan sawah itu begitu hibah dari Ayah dilakukan. Sehingga Ibu bisa mengeluarkan zakat setiap panennya. Namun, karena selama ini Ibu tidak mengelola penghasilan dari sawah ini, dan hanya mengeluarkan infak dari beras yang ibu terima, itu juga benar, karena kita hanya dibebani zakat/infak atas harta yang kita kuasai penuh. Nah, karena sekarang sawah itu sudah 100% menjadi milik Ibu, maka Ibu mesti mengetahui pendapatan setiap panen, untuk kemudian dikeluarkan zakatnya.

2. Rumah di Bandung, bukan termasuk warisan, bukan pula wasiat, karena sudah dibagi-bagi diberikan sebelum Ayah meninggal. Rumah di Bandung adalah hibah, dan sudah ibu hakmiliki sejak saat pembagian itu, walaupun pengurusan surat-surat belum dilakukan.

  • Rumah saudara yang lain kategorinya adalah hibah.
  • Ya, kalau termasuk hibah, maka tidak termasuk harta warisan yang harus dibagi, karena hak kepemilikannya sudah berpindah.
  • Sependek pemahaman saya, tidak ada istilah zakat waris. Dan tidak ada pula istilah zakat rumah, kecuali kalau rumah itu disewakan dan menghasilkan pertumbuhan penghasilan (zakat investasi). Namun kalau rumah yang diam saja, tidak produktif, tidak wajib keluar zakatnya, kecuali zakat hadiah, dibayarkan sekali saja sebesar 20%.

3.Pada saat pembagian tanah itu, maka saat itulah hibahnya diterima oleh anak-anak Ayah, dan bergantilah kepemilikannya, meskipun sertifikat belum diurus semuanya. Jadi untuk tanah, tidak ada yang bisa dibagi warisnya, kalau semuanya sudah dihibahkan.

  • Pada saat ada keputusan hibah, saat itulah hak kepemilikan berpindah, sehingga ibu punya kewajiban zakat hadiah atas harta hibah itu. Zakat hadiah nilainya 20%.
  • Tidak ada zakat atas harta waris, kecuali sama ibu dikumulasikan dengan harta ibu yang lain, kategorinya adalah zakat maal sebesar 2,5%.
  • Kewajiban zakat adalah kewajiban atas harta yang dimiliki penuh, setelah dikurangi utang dsb. Jadi kalo masih ada utang atau kebutuhan lain yang primer, tentu membayar utang lebih diprioritaskan.

Demikian paparan dari saya, semoga bermanfaat.

Wassalam,

Heru

===

10 pemikiran pada “Bedakan Antara Waris, Wasiat dan Hibah

  1. Ping balik: Kriteria Harta Wajib Zakat « Galecok Heru Be

  2. assalam akhi….setelah membaca artkel di atas ada pertanyaan
    bagaiamana hukum wasiat yg peruntukkan untuk ahli waris…????
    misalkan saya sebelum menginggal mewasiatkan sebuah motor untuk anak saya, apakah anak saya berhak mendapatkannya setelah saya meninggal dunia ?????/
    Karena melihat syarat2 diatas sedikit bertolak belakang dengan pemahaman saya selama ini….makasih….
    mohon jawabannya di kirim juga ke :
    findermoneys@yahoo.com
    ahmadi
    wassalam

    • Waalaykumsalam Pak Ahmadi.
      Merujuk kepada kriteria di atas, sepemahaman saya, maka memberi wasiat kepada ahli waris adalah tidak sah. Dan ketika Bapak meninggal, misalnya, motor yang milik Bapak akan dihitung sebagai bagian dari harta Bapak secara keseluruhan. Baru kemudian diwariskan kepada ahli waris sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Wallahu a’lam. Silakan merujuk kepada para fuqaha yang lebih kompeten.🙂

  3. Assalamualaikum
    Saya punya masalah yang kuranglebih mirip….Begini…Ayah saya punya anak 9( 6 laki2, 3 perempuan), saya anak ke-7. sewaktu masih sehat dan mampu ayah saya membelikan kakak2 saya rumah, dan berjanji setiap anak akan dibelrikan rumah yang sama nilainya. yang sudah dapat jatah rumah 5 orang yang nilainya sekarang mencapai lebih dari 1M / rumah. adik saya meninggal dengan meninggalkan satu anak laki2. Sekarang ayah saya sudah meninggal, rumah yang ada ditempati oleh ibu saya, saya (sudah berkeluarga) dan adik perempuan yang janda. Kakak laki2 saya yang belum dpt rumah tinggal di jakarta. Jadi yang belum mendapatkan rumah 3 orang plus ibu saya. jauh hari sebelum sakit dan meninggal, ayah saya sudah mau menjual rumah yang kami tempati untuk kemudian membelikan rumah untuk ke-3 anaknya dan satu rumah lagi buat ayah dan ibu. tapi sampai meninggal rumah belum laku. sekarang ada penawaran harga bagus untuk rumah, tapi anak2 masih belum sepakat tentang pembagiannya. yang belum punya rumah tentu saja meminta hasil penjualan rumah dipakai untuk membeli rumah dulu untuk masing2 anak dan beli rumah untuk ibu, baru sisanya dibagi waris. yang sudah punya rumah ada yang setuju ada yang tidak. susahnya lagi saya dan adik yang belum punya rumah menginginkan rumah yang nilainya hampir sama dengan kakak2 saya ( rumah mereka nilainya diatas 1M, saya dan adik minta perorang 750jt). Angka itu dulu sudah disetujui oleh ayah saya, tetapi setelah ayah meninggal kakak2 yang sudah punya rumah tidak setuju. Bagaimana menurut Bapak hukumnya? apakah saya salah bila minta pembagian rumah yang adil?
    Terimakasih
    Wasssalamualaikum

  4. ada seorang istri meninggal dunia, meninggalkan suami dan tidak punyak anak, mempunyai anak pungut satu orang, istri memiliki saudara dua laki-laki dan dua perempuan, bagaiman cara pembagian warisnya?

  5. Assalaamu’alaikum wr wb.
    Pak ustad atau siapa saja yang mengerti tentang masalah saya tolong penjelasannya.
    Dari dihibahkan kesatu anak dirubah oleh pewaris menjadi diwariskan ketiga anak, ada bukti tertulis dan segel hibah dan waris, bagaimana pemecahan masalahnya, soalnya saya pusing banget.??

  6. sy bungsu dr 5 saudara laki-laki & 3 perempuan , ibu kami janda sblum meninggal ia menghibahkan secara lisan rumah yg sy tempati kepada sy dan itu diketahui ataupun diakui sebagian saudara2 sy,pertnyaan :
    1.apakah status hukumnya
    2.apakah hibah itu dapat digugat

    • melihat kronologi maka…
      1. status hukumnya hibah. sah sudah jadi milik Pak Rony. sudah hak Pak Rony atas hibah itu.
      2. masalah gugat menggugat itu mungkin saja dilakukan oleh pihak yang merasa . hanya Pak Rony akan punya alasan kuat menerima hak hibah itu karena punya saksi-saksi atau diketahui oleh saudara2 yang lain.

      demikian, wallahu a’lam🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s