Membincangkan Kemiskinan

Di banyak kesempatan, sering saya ditanya: “Apa kriteria seseorang dikatakan miskin?” Bagi Anda, konyol atau keterlaluankah pertanyaan itu?

Memang ada beberapa penafsiran. Pertama, pertanyaan itu memang serius. Faktanya makin hari kemiskinan bukannya berkurang malahan bertambah-tambah. Di manapun baik di kota maupun di desa, mudah sekali dijumpai orang miskin. Ibaratnya di depan di belakang, di samping kanan dan kiri serta di atas dan bawah, ada orang miskin.

Penafsiran kedua, pertanyaan itu cuma gurauan. Anda lihat, bukankah masyarakat juga sudah jenuh melihat kemiskinan yang makin meruyak di mana-mana. Bantuan sudah diberikan tapi toh kemiskinan tak juga hilang. Jadi masih pantaskah mereka dibilang miskin? Jawabnya bisa ya, bisa juga tidak. Masih pantas dikatakan miskin karena memang lapangan kerja makin langka. Saat ini memang sulit sekali untuk bisa bekerja. Jikapun ada pekerjaan, ternyata kualifikasi yang dibutuhkan sukar dimasuki oleh angkatan kerja baru. Sementara antara lulusan sekolah dan lapangan kerja, ibarat antara deret ukur dengan deret hitung. Bahkan lulusan universitas pun ternyata belum siap pakai.

Di sisi lain, agaknya sulit juga mereka dikatakan miskin. Sebab bisa jadi lulusan sekolah yang tak punya pekerjaan, ternyata masih mengenakan pakaian yang baik. Bahkan mungkin tetangga Anda yang katanya menganggur, nyatanya masih mengendarai mobil mentereng. Mungkin karena mereka memang masih ditunjang orang tuanya. Barangkali juga mereka punya warisan, yang bunga depositonya bisa membiayai hidup sehari-hari. Sungguh ini bukan hanya potret buram, melainkan amat berbahaya. Bagi yang masih ditunjang orang tua, mereka termasuk pengangguran semu. Seolah-olah mereka tak punya persoalan dengan kemiskinan. Namun begitu orang tua bermasalah, pensiun atau tiba-tiba meninggalkan dunia fana, kemiskinan segera menampakkan wajah aslinya untuk segera mencabik-cabik. Apakah Anda juga yakin bahwa deposito merupakan cara abadi menghasilkan uang? Anda pasti setuju bahwa deposito amat tergantung pada kondisi ekonomi politik. Berapa banyak orang hancur karena nilai kurs rupiah jatuh tahun 1998. Inilah kemiskinan semu, yang malu-malu menampakkan diri. Selalu tertutup karena tunjangan orang tua dan deposito. Namun sesungguhnya itulah bahaya laten, yang akan menghancurkan kekuatan masyarakat dan keutuhan bangsa.

Ada juga yang memang pantas dikatakan miskin. Seberapapun dibantu, tetap saja kondisinya tak berubah. Bisa jadi tak berubah karena bantuan modal tak bisa mendongkrak usaha karena kondisi sulit. Atau mereka tetap miskin, karena sikap mentalnya tidak mau berubah. Mereka merasa betah dengan kemiskinan dan profesi peminta-mintanya.

Pertanyaan kriteria miskin di atas, pun bisa bersifat sinis. Inilah penafsiran ketiga. Kesinisan ini dipicu oleh tingkah laku orang-orang miskin itu sendiri. Saat pagi-pagi Anda berbenah menyiapkan diri untuk kerja, si miskin juga berkemas. Saat Anda berangkat ke kantor, ke pabrik, ke lapangan atau ke sawah, orang-orang miskin terjun ke jalan atau ke tempat keramaian. Saat Anda mulai bekerja, orang-orang miskin malah sudah lebih gesit. Saat Anda berangkat kerja, mereka telah beroperasi dengan meminta-minta. Saat Anda bekerja di kantor, mereka juga tetap aktif mencari sedekahan. Saat Anda istirahat makan siang di warung di balik tembok kantor, mereka juga datang meminta. Saat Anda pulang kerja, mereka tetap mencegat sembari menengadahkan tangan mohon belas kasih. Saat Anda rekreasi dengan keluarga, itu juga jadi kesempatan mereka untuk dapat sedekah lebih.

Begitulah gambaran rumitnya masalah kemiskinan. Banyak faktor yang berperan: ada sistem yang melanggengkan kemiskinan, ada kemiskinan semu para lulusan sekolahan, ada sikap mental orang-orang miskin yang “teguh” dengan kemiskinannya, ada pula yang menganggap kemiskinan dan meminta-minta sebagai profesi yang menguntungkan.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Upayakanlah memberantas kemiskinan sesuai dengan level kita. Pertimbangkan faktor-faktor di atas sebelum kita bekerja. Namun, yakinlah bahwa zakat, infak, shadaqah, adalah komponen penting yang harus ditegakkan agar kemiskinan itu tidak melebar ke mana-mana, tidak terkendalikan.#(ed: heru) sumber utama: http://eriesudewo.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s