Sadar Halal: Edukasi, Advokasi, Solusi

Saya punya pengalaman kurang lebih setahun tinggal di Australia. Ada satu hal yang menarik saya cermati tentang orang-orang muslim yang tinggal di sana, khususnya teman-teman asal Indonesia yang saya kenal, adalah bahwa mereka sangat care terhadap kehalalan makanan. Kalau mau makan kebab, kita pilih dari gerai yang bersertifikat halal. Kalau mau makan di resto, kita cari resto halal. Kalau belanja daging, kita ke Marmara–sebuah toko daging segar dan olahan, yang tentunya halal. Kalau beli cracker atau es krim atau apapun produk olahan kemasan, kita terbiasa untuk membaca dulu ingredients-nya, lalu menolak yang ada produk hewaninya, kecuali di kemasannya terlabel halal yang biasanya dikeluarkan oleh AFIC (Australian Federation of Islamic Councils). Atau biar lebih aman, cari saja produk vegetarian yang pasti tidak ada kandungan hewaninya. Pokoknya, saya merasakan betul bahwa begitu terjaganya saya, dan juga teman-teman di sana, terhadap kemungkinan masuknya zat haram dalam makanan kita. (Tentu, teman-teman saya yang sembarangan makan atau bahkan minum-minum khamr tidak masuk konteks di sini ;p).

Entahlah alasannya apa. Keterjagaan itu tidak saya dapatkan di Indonesia. Kekritisan terhadap produk olahan tidak memiliki tempat. Masyarakat Indonesia–yang mayoritasnya muslim–tidak memiliki kepedulian terhadap seberapa aman produk konsumsian mereka. Padahal tayangan TV beberapa kali menampilkan investigasi maraknya abon babi berlabel sapi, misalnya. Ada juga reportasi investigasi terhadap baso tikus, tahu berformalin, dan berbagai kengerian lain atas produk makanan di kita.

Padahal, berbicara makanan halal-haram, tidak semata terbatas pada produk babi atau bukan. Meskipun hewannya sapi, ayam, tapi kalau proses penyembelihannya tidak syar’i, jadilah bangkai, haram pula produk itu. Artinya, jaminan produk halal memang tidak sederhana–untuk tidak mengatakan rumit.

Kalau kita berada di negeri minoritas muslim, kita selektif dan hati-hati, begitulah pula semestinya kita di Indonesia: mesti selektif dan hati-hati juga. Ya, karena mayoritas muslim di Indonesia, baru sebatas data statistik KTP; yang ini tidak berbanding lurus dengan pemahaman mereka terhadap Islamnya sendiri. Pemahaman tentang makanan halal ini adalah salah satu contohnya. Kita juga mesti ingat bahwa inilah Indonesia, negeri yang prestasi korupsinya berperingkat tinggi di dunia, para pemimpinnya adalah pemakmur masing-masing dirinya, masyarakat kelas menengahnya adalah pendusta–misalnya dengan mengubah angka slip gaji untuk bisa mendapat kucuran kredit dari bank rente, masyarakat kelas miskinnya adalah pemain sandiwara–dengan tampilannya di pinggir jalan yang dibikin membuat iba. Maka, untuk urusan halal-haram daging sembelihan, tentu bukan urusan besar bagi (kebanyakan) mereka. Kalau memang perlu membuat label halal, meski tidak memiliki sertifikatnya, dan tanpa ada auditor pengujinya, mereka (produsen makanan) akan cetak label halal di kemasan produk mereka… *duh*.

So? Sekali lagi, sebagaimana kita hati-hati di luar negeri, lebih berhati-hatilah di negeri sendiri, terhadap makanan ini.

Lalu apa yang mesti kita lakukan? Yang pertama tentu edukasi. Memberikan informasi benar kepada ummat muslim Indonesia bahwa kehalalan sebuah makanan itu penting. Sama pentingnya dengan sholat, dzikir, dan doa-doa yang biasa kita panjatkan. Di sinilah peran para ulama, muballigh, juga media massa untuk memberikan kampanye makanan halal ini. Karenanya, saya mengapresiasi apa yang dilakukan detikfood.com yang menjadi salah satu muballigh kehalalan makanan ini.

Kedua, perlu diinisiasi sebuah lembaga advokasi halal. Di Indonesia, sejak tahun 90-an telah ada LPPOM MUI yang menjadi lembaga sertifikasi. Namun lembaga ini–jika tanpa dibarengi UU–tentu hanya bisa menghimbau kepada para produsen untuk “menghalalkan” produknya, lalu sudah. Maka perlu dibuat oleh masyarakat (melalui ormas Islam misalnya) lembaga semodel YLKI yang melakukan advokasi hak-hak konsumen muslim akan kehalalan produknya. Jika masyarakat sebagai pasar produk yang meminta, tentu tidak akan diabaikan begitu saja oleh para produsen. Jika mereka lalu bisa bekerjasama dengan media massa, insya Allah langkah advokasinya akan lebih terasa.

Ketiga, ormas atau partai Islam, jamaah pengajian, yayasan sosial, pesantren dan semisalnya, harus menguatkan komunitasnya untuk melahirkan solusi produk-produk halal minimal bagi komunitasnya. Sehingga, meskipun mereka tidak mengonsumsi produk berlabel halal, tapi mereka yakin makanannya halal karena dibuat oleh teman sepengajiannya, ikhwan sepesantrennya, dan seterusnya. Nanti, kalau masing-masing komunitas sudah punya produk unggulan yang diyakini kehalalannya, tinggal bertukar informasi dengan komunitas lain sehingga pangsa pasar menjadi makin luas, dan produk makin bervariasi.

Di pangkal itu semua, tentu harus dimulai dari diri sendiri, dari hal-hal sederhana, dari sekarang juga, untuk hanya mengonsumsi yang halal-halal saja. That’s it.

Wallahu a’lam.#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s