Ternyata (Masih) Bodoh

Beberapa hari yang lalu, ada email masuk ke inbox saya. Isinya adalah pertanyaan–atau lebih tepatnya: konsultasi–tentang permasalah zakat dan waris. Saya tidak tahu persis alasan kenapa email itu bisa masuk ke saya. Mungkin karena saya dianggap “islami”, atau mungkin karena orang itu menganggap saya orang yang tahu atau bisa menjawab permasalahannya. Ya, iyalah, kalo engga, ngapain juga ngirim ke saya?

Namun nampaknya orang tersebut mesti agak kecewa, karena–terus terang saja–permasalahan si Ibu itu (dia adalah seorang Ibu), tidak/belum bisa saja jawab. Oh, ternyata aku memang masih bodoh…

Sengaja saya tuliskan di sini, kalau saja ada yang bisa menjawab pertanyaan pelik ini: Mangga…

===

Assalamu’alaikum wr.wb.

Pak Heru, mau menanyakan tentang zakat harta waris yang harus saya tunaikan. Keadaannya adalah seperti ini: Ayah saya meninggal tanggal 19 Februari 2011. Ibu saya masih ada. Kami bersaudara 5 orang. Kakak perempuan, saya, dan 3 orang adik laki-laki semua. Ibu saat ini tinggal bersama adik bungsu saya.

  1. Jauh sebelum Ayah wafat, Ayah membagikan sawah pada kami berlima. Kami sendiri sudah mengurus sertifikatnya atas nama masing-masing sesuai permintaan Ayah. Namun Ayah berpesan bahwa sawah tersebut baru sepenuhnya dimiliki oleh masing-masing jika Ayah sudah tidak ada. Selama ini pengelolaan sawah masih ditangani Ayah. Kami hanya mengambil beras sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Jadi saya belum mengeluarkan zakat sawah tersebut, karena saya merasa belum menghakinya, dan sayapun tidak tahu berapa penghasilan dari sawah bagian saya.

Pertanyaannya:

  • Bagaimana menghitung zakat/infaq sawah yang harus saya keluarkan?
  • Karena pengelolaan belum di tangan saya, saya tidak tahu berapa penghasilan saya dari hasil sawah ini. Selama ini saya hanya mengeluarkan infaq dari beras yang saya ambil untuk makan. Bagaimana seharusnya?
  1. Kakak dan adik-adik saya semuanya menempati rumah yang tanahnya dibelikan oleh Ayah, dan pembangunannya dibantu oleh Ayah. Semuanya sudah disertifikasi atas nama masing-masing. Sedangkan saya dengan kemauan sendiri mencari rumah sendiri, walaupun dengan mencicil. Ayah saya sudah menyampaikan pada semua bahwa rumah untuk saya adalah yang di Bandung. Sebelum meninggal, berulang-ulang Ayah meminta saya untuk mengurus sertifikat rumah Bandung agar menjadi atas nama saya. Tapi menurut adik saya, kalau mengurus sertifikat sekarang, pajak hibahnya sama dengan pajak jual beli, akan lebih murah kalau termasuk pajak waris. Jadi sampai sekarang saya belum mengurus sertifikatnya.

Pertanyaannya:

  • Malah sekarang saya semakin bingung, kalau rumah Bandung termasuk warisan, apa itu termasuk wasiat?
  • Wasiat kan harus dilaksanakan dengan mengikuti hak bagi waris. Apa rumah saudara yang lain dapat dimasukkan sebagai warisan atau hibah?
  • Kalau termasuk hibah berarti tidak termasuk dalam harta warisan yang harus dibagi bukan?
  • Apakah saya sudah berkewajiban mengeluarkan zakat waris untuk rumah ini, padahal bagi saya statusnya masih belum jelas, karena belum ada hitam di atas putih bahwa itu adalah milik saya, walaupun Ayah sudah menyampaikan hal itu pada yang lain?
  1. Demikian pula Ayah membagikan tanah pada anak-anak. 2 sudah disertifikat atas nama anak, 3 yang lainnya belum.

Pertanyaannya:

  • Yang mana yang termasuk harta waris yang harus dibagi?
  • Apakah harta waris ini sudah dapat dihaki, sehingga jatuh kewajiban untuk dikeluarkan zakatnya?

Pertanyaan terakhir:

  • Berapa persen infaq/zakat yang dikeluarkan atas harta waris?
  • Jika saya merasa belum mampu mengeluarkan zakatnya, misalnya karena terlalu besar jumlahnya atau masih ada kebutuhan lain, apakah saya boleh mencicilnya walaupun tabungan ada?

Maaf pak Heru ini semua saya tanyakan, karena saya khawatir termasuk orang yang tidak menyucikan dirinya. Jazakallah khairon katsiro.

Wassalmu’alaikum wr.wb.

R

===

Siapa bisa jawab?

Satu pemikiran pada “Ternyata (Masih) Bodoh

  1. Ping balik: Bedakan Antara Waris, Wasiat dan Hibah « Galecok Heru Be

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s