Kajian Surat An-Naas

1. Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

2. Raja manusia.

3. Sembahan manusia.

4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,

5. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

6. Dari (golongan) jin dan manusia.”

 

Setidaknya, ada dua hal yang mesti kita kaji dalam upaya memahami surat ini. Pertama, tentang makna rabb, malik, dan ilaah, yang diungkap dalam ayat 1-3, yang sesungguhnya mewakili satu objek yang sama: Allah. Lalu yang kedua, tentang mengapa Allah SWT memanggil dirinya berkali-kali dalam tiga ayat pertama surat ini.

Rabb mengandung makna kepemilikan, pemeliharaan dan perlindungan (Shihab, …2008?). Dari makna ini kita memahami bahwa kita diperintahkan oleh Allah untuk meminta perlindungan kepada-Nya yang Maha Memiliki dan Memelihara diri kita. Sadarilah bahwa tidak ada yang berhak memiliki diri kita, tidak akan ada yang mampu memelihara diri kita, kecuali Allah swt. Karena itu hendaklah kita berlindung kepada-Nya.

Malik berarti raja. Dengan menggunakan kata ‘malik’ di ayat ini, tersurat sekaligus tersirat kerajaan dan kekuasaan-Nya. Allah adalah Raja yang memiliki Kuasa atas kerajaan-Nya. Dengan kekuasaan-Nya Allah pasti bisa menggagalkan usaha siapa pun yang bermaksud jahat. Oleh karena itu ungkapan permohonan perlindungan kepada Allah menjadi sangat wajar, dan memang seharusnya begitu, karena Dia-lah Sang Raja sejati, pemilik kuasa alam ini.

Kata ilaah semakna dengan kata ma’buud, yang berarti tujuan penyembahan dan pengabdian. Allah adalah ilaah, karena hanya kepada-Nya semua makhluk semestinya menyembah, mengabdi dan taat. Seluruh makhluk menuju dan bermohon kepada-Nya. Nah, di ayat yang ketiga kita diperintahkan Allah untuk meminta perlindungan dari Allah, Dzat yang disembah yang kepada-Nya tertuju segala bentuk pengabdian.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya, sebagaimana dikutip Aam Amiruddin, menjelaskan bahwa ayat satu sampai tiga dalam surat An-Naas menegaskan tiga aspek ketauhidan yang paling fundamental, yaitu rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah.

Tauhid rububiyah diambil dari kalimat rabbinnas. Maknanya yakni hanya Allah satu-satunya Pencipta, Pemilik dan Pengendali alam raya. Dengan kekuasaan-Nya, Ia menghidupkan dan mematikan.

Allahlah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rizki, dan mematikanmu, kemudian mematikanmu kembali…” (QS. Ar-Rum: 40).

Jadi, qul a’udzu birabbinnas memiliki makna, “Katakanlah aku berlindung kepada yang mencipta, mengatur, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan manusia.”

Tauhid mulkiyyah diambil dari kalimat malikinnas. Maknanya yakin Allah swt raja atau penguasa yang sesungguhnya, penguasa yang paling berhak menentukan aturan hidup. Aturan hidup-Nya termaktub dalam Al-Quran dan Sunnah Rasul. Kalau kita mau memperlajari dan mengamalkannya, berarti kita telah melaksanakan tauhid mulkiyyah.

Allah swt mengecam orang-orang yang tidak mengimplementasikan tauhid mulkiyyah dalam kehidupannya. “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah: 50)

Ustadz Sayyid Quthb menjelaskan, yang dimaksud hukum jahiliyah yaitu aturan hidup/hukum buatan manusia yang berseberangan atau bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Misalnya lebih suka menggunakan hukum waris adat yang banyak bertentangan dengan hukum waris Islam. Ini jelas pelanggaran terhadap tauhid mulkiyyah.

Adapun hukum atau aturan buatan manusia yang sejalan dengan nilai-nilai Islam, tentu tidak disebut hukum jahiliyah, kita wajib menaatinya untuk kemaslahatan. Misalnya kita harus menghentikan kendaraan bila lampu merah menyala. Aturan ini harus kita taati karena tidak menyalahi aturan Islam dan bermanfaat untuk kemaslahatan. Contoh lainnya, saat ujian tidak boleh nyontek. Ini aturan yang wajib ditaati karena senafas dengan ajaran Islam yang menekankan kejujuran dalam segala hal.

Tauhid uluhiyyah diambil dari kalimat ilahinnas. Maknanya, suatu keyakinan bahwa hanya Allah swt yang paling berhak diibadahi. “Dan tidaklah kami mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepada mereka bahwa tiada Tuhan selain Aku, maka beribadahlah hanya kepada-Ku.” (QS. Al-Anbiya: 25)

Kalau kita cermati, sesungguhnya kaum jahiliyyah yang menentang dakwah Rasul memiliki tauhid rububiyah. Mari simak ayat berikut,

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menjadikan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan?’ Tentu mereka akan menjawab ‘Allah’, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS. Al Ankabut: 61)

Menurut ayat ini, mereka yakin bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi serta mengatur peredaran alam semesta. Ini merupakan indikator mereka memiliki tauhid rububiyah. Tapi sayang, mereka tidak memiliki tauhid uluhiyah. Saat beribadah, mereka menjadikan berhala sebagai sembahannya. Jadi, orang yang di dalam hatinya tertanam tauhid rububiyah belum tentu memiliki tauhid uluhiyah.

Mari kita proyeksikan analisis ini pada kehidupan kita. Kalau kita bertanya pada seseorang, Apa kamu yakin Allah yang menciptakan dan memberi rizki serta kehidupan kepadamu? Jawabnya, “Ya saya yakin”. Ini adalah tauhid rububiyyah. Kenyataannya, yang disembah bukan Allah tetapi kedudukan dan harta karena ia berani meninggalkan shalat hanya demi rapat. Tidak sedikit pula yang menghalalkan segala cara demi kedudukan, sehingga lupa akan aturan yang ditetapkan Allah sebagai Penentu hukum.

Kalau demikian keadaannya, yang menjadi Tuhan bukanlah Allah tapi harta dan kedudukan. Inilah gambaran betapa banyak umat Islam yang memiliki tauhid rububiyyah, namun tidak mempunyai tauhid mulkiyah dan uluhiyyah. Sungguh tragis! Nah, ayat satu sampai tiga dalam surat An-Naas mengingatkan manusia bahwa tauhid rububiyyah, mulkiyyah dan uluhiyyah harus dimiliki secara keseluruhan agar tauhid menjadi sempurna.

***

Surat An-Naas ini menyebut Allah dengan tiga ungkapan yaitu rabb, malik dan ilaah; sedangkan yang dimohonkan hanya satu yaitu terlindung dari bisikan dan rayuan setan yang merasuk ke dalam hati. Hal ini menunjukkan bahwa rayuan setan yang berada dalam dada manusia sangat berbahaya, bahkan lebih berbahaya daripada musuh yang berada di luar dirinya.

Surat ini mengajarkan kepada kita adalah bahwa hendaknya kita memohon perlindungan kepada Allah swt dari segala potensi dosa, bahkan yang baru hanya berupa bisikan hati, baru berupa kecenderungan. Karena kalau kecenderungan buruk ini dibiarkan, akan berlanjut menjadi suka dan kemudian melakukannya.

Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.” (QS. Al-An’am: 113)

Maka, bagi siapa saja yang merasakan ada bisikan hati untuk berbuat dosa, segeralah mohon perlindungan kepada Allah. Sadarilah bahwa Allah adalah rabb yang memelihara kita, malik yang berkuasa penuh untuk menghukum jika kita berdoasa, dan ilaah yang kepada-Nyalah hendaknya kita tunduk dan menghamba.

Dari kajian ini, nyatalah bahwa Islam adalah sebuah sistem kehidupan yang lengkap dan sempurna. Islam membentengi diri manusia dari dosa-dosa melalui pemberlakuan hukum hudud (pidana), namun jauh sebelum dosa itu terjadi, yang baru berupa bisikan saja, kita sudah diajarkan untuk juga berlindung diri dan menjauhinya. Wallahu a’lam.***

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s