Berhijrahlah

Hijrah adalah sunnatullah. Siapapun yang menginginkan perbaikan dalam hidupnya, peningkatan kualitas keluarga dan masyarakatnya, harus memilih jalan hijrah. Dalam konteks apapun, hijrah mestinya menjadi metode kita dalam meraih kesuksesan, baik di alam jiwa, maupun di alam nyata.

Dalam lingkup terkecil misalnya, diri kita sendiri. Ada orang yang merasa tidak nyaman dengan keadaannya. Hatinya selalu resah, pikirannya stress, badannya sakit-sakitan, dan sebagainya. Orang tersebut semestinya berhijrah, dengan melakukan apa saja yang bisa menghilangkan resahnya, menurunkan tekanan pikirannya, dan menyehatkan badannya. Dengan cara apa? Ah, ilmu sesedikit apapun kita, pasti mengetahui normatifnya. Berdzikirlah, karena hanya dengan dzikir hati akan tenteram. Berimanlah, karena hanya dengan iman yang benar, sesuatu yang menyetreskan hanyalah ujian sesaat yang pasti kita bisa segera carikan solusinya. Berolahragalah, jagalah makanan yang kita konsumsi, beradalah di lingkungan yang sehat, cucilah tangan sebelum makan, makanlah yang gizinya seimbang, yakinlah bahwa penyakit itu akan segera pergi dari badan kita. Tahu kenapa? Karena penyakit hanya hinggap pada tubuh yang tidak memiliki sistem pertahanan tubuh yang baik. Dan hal-hal yang di atas disebutkan adalah upaya penguatan sistem pertahanan tubuh kita.

Nah, kalau ada orang-orang yang merasa resah, stress, sakit, tapi masih saja berperilaku seperti yang tidak semestinya, tidak berhijrah, maka salam bangkrut bagi dia. Selamat merasakan ketertindasan yang sebenarnya bisa dia tinggalkan, kalau dia mau.

Lalu, begitu pula dalam lingkup keluarga. Saya pikir sangat aneh kalau ada sebuah keluarga yang memilih tetap bertahan dalam konflik yang melelahkan. Dia merasa ada yang tidak cocok dengan cara hidup mertuanya, misalnya. Tetapi dia tetap bertahan tinggal dengan mertua, dan mengorbankan kemerdekaan asasinya sebagai seorang menantu dan memiliki keluarga sendiri. Berhijrahlah atuh. Kenapa masih tinggal sama mereka? Mereka, adalah orang-orang yang sudah tua. Meskipun bukan mustahil, tapi sulit mengharapkan mereka akan berubah karakternya seperti yang kita harapkan. Mereka pasti punya ego, karena telah hidup lebih lama dari kita. Berhijrahlah, nanti kita akan lihat efeknya. Berhijrah itu akan membuka mata mereka, dan itu menjadi satu cara untuk memperbaiki karakter mereka yang kita nilai tidak baik itu.

Apalagi yang mesti kita hijrahi? Lingkungan. Ya, lingkungan. Kan kita semua tahu, sangat besar pengaruh lingkungan pada pendidikan anak-anak kita. Menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusinya anak-anak kita, juga bergantung lingkungan tempat mereka bergaul. Maka berhijrahlah. Jangan biarkan anak-anak kita, yang sudah kita rawat dan didik dengan sebaik-baik pendidikan di rumah, tetapi ketika bergaul dengan teman-temannya di lingkungannya, mendapatkan pelajaran-buruk yang lebih banyak dan lebih melekat pada karakternya. Berhijrahlah, tinggalkan lingkungan yang seperti itu.

Sangat aneh: bertahan dalam lingkungan yang kotor, banjir, kriminal, maksiati, padahal Allah telah mensyariatkan hijrah sebagai jalan keluarnya. Banyak tantangan, memang, tapi bukankah tantangan itu pula yang sudah sukses dilewati oleh orang-orang mukmin pengikut Rasul? Mereka rela meninggalkan segala ‘kesenangan’ mereka di Mekkah, untuk meraih kesenangan sejati di tempat baru setelah hijrah (Madinah).

“Hujan batu di negeri sendiri, lebih baik meskipun ada hujan permata di negeri orang.” Inilah sebuah peribahasa buruk. Peribahasa yang memaksa orang-orang di sebuah negeri untuk ‘bersabar seumur hidup’ tertindas teraniaya, terjajah bahkan oleh saudara sebangsanya sendiri. Berhijrahlah. Pindahlah. Toh, apalagi kini, nggak ada batas nyata antar negara. Nggak ada pengaruhnya jarak geografis. Semua sudah dekat dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi kini.

Hijrah, hijrah, hijrah. Mari kita berhijrah, mencari yang lebih baik bagi diri, keluarga, lingkungan, negara, agar kita tidak perlu ditanya kelak oleh malaikat dengan pertanyaan telak yang tak bisa kita jawab: “Bukankah bumi Allah ini luas? Kenapa kalian tidak berhijrah?” Nggak bisa ngejawab pertanyaan itu, akan mengantarkan kita pada neraka. Na’udzubillah.#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s