Jangan Ada Bencana di Atas Bencana

Belum lepas ingatan kita akan bencana banjir bandang di Wasior Papua Barat pada bulan Oktober lalu, kini dua bencana besar menimpa bangsa Indonesia dalam waktu yang bersamaan: Gunung Merapi meletus, menelan puluhan  korban jiwa; dan tsunami di Mentawai yang mengakibatkan 300-an orang tewas dan 400 lainnya hilang.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Inilah sikap yang mesti kita ambil menyikapi berbagai peristiwa bencana di sekitar kita: penyerahan diri kepada Allah SWT, dengan kesadaran penuh akan berbagai kelemahan diri, dan segala keMahaAgungan Dia, lalu kita tunduk patuh sepenuhnya pada semua ketentuan-Nya. “Sesungguhnya kami hanyalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami akan kembali.”

Selayaknya sebagai sesama manusia kita memberikan perhatian dan bantuan kepada para korban bencana ini, disesuaikan dengan prioritas dan tingkat kedaruratan. Kita tidak tahu, boleh jadi esok atau lusa kitalah yang menjadi korban bencana, yang pada saat itu tentu memerlukan uluran tangan bantuan orang lain.

Kita selayaknya memberikan apresiasi kepada semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, yang telah berperan serta menanggulangi akibat dari bencana-bencana alam ini. Para pakar dan akademisi yang telah memberikan early warning, pemerintah yang memfasilitasi tempat pengungsian, sarana kesehatan dan sebagainya, juga masyarakat relawan yang aktif di lapangan, serta media massa yang memberi informasi yang benar, semoga Allah memberikan pahala atas segala kebajikan mereka. Kita, yang memiliki jarak dengan para korban bencana, semestinya menunjukkan kepedulian kita dengan cara apapun yang kita bisa. Jangan lupa untuk menyertakan mereka di sela-sela doa harian kita.

Nah, di luar itu semua, semestinya kita semua bertafakkur, merenungkan  apa maksud Allah menimpakan rangkaian bencana alam pada bangsa ini. Jika kita menyimak ayat 112 dari QS. An-Nahl, kita akan tersindir bahwa begitulah bangsa ini: memiliki berbagai nikmat yang sangat melimpah ruah, namun kita lalai untuk mensyukurinya.

Syukur adalah berterima kasih kepada Allah dengan cara mendayagunakan semua karunia-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Seseorang yang memiliki ilmu, tidak dikatakan bersyukur, jika dia menggunakan ilmunya untuk menipu orang lain. Seorang pemilik harta, dia tidak bersyukur jika hartanya hanya ditumpuk, atau digulirkan tetapi menggunakan sistem riba. Seorang pemimpin tidak bersyukur dengan kedudukannya, jika ia gunakan jabatannya bahkan untuk menginjak-injak aturan-aturan dalam Al-Quran. Begitulah, dalam semua nikmat Allah yang kita terima, ada kewajiban kita untuk mensyukurinya.

“… dan jika kamu mengkufuri (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Bisa jadi, rangkaian bencana alam yang kini menimpa kita, merupakan peringatan akan kepedihan adzab Allah yang sebenarnya, karena kita telah kufur (tidak mensyukuri) nikmat-nikmat dari-Nya.

Mari kita peringatkan diri kita, saudara-saudara kita, dan semua masyarakat, untuk tidak salah menyikapi bencana alam ini. Jangan kait-kaitkan bencana ini dengan takhayul dan khurafat, seperti mengatakan bahwa bencana ini adalah karena pemimpin tertentu, atau mengultuskan seseorang yang dianggap sebagai ‘kuncen’ gunung tertentu, atau mengiringinya dengan ritual-ritual yang tidak pernah dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Bencana alam adalah kehendak Allah, untuk kita ambil pelajaran darinya. Janganlah kita tambah dengan bencana yang lebih dahsyat: bencana aqidah, berupa kesyirikan yang dilestarikan. Ini namanya bencana murakkab: bencana di atas bencana. Na’udzubillahi min dzalik.#

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s