… Rani, Antasari

Tren memutar rekaman pembicaraan telepon untuk mengungkap kasus kejahatan makin menggejala. Dimulai dengan kasus Artalyta, lalu Anggodo di sidang terbuka MK, dan kemarin Rani-Antasari. Ada hal penting yang patut dijadikan pelajaran adalah bahwa hendaknya kita berhati-hati dalam berkomunikasi dengan alat-alatnya. Agar kita juga berhati-hati untuk tidak terjerumus perilaku kejahatan, karena para penegak hukum akan sangat mudah mengorek informasi dari alat-alat yang selama ini bersentuhan dengan kita.


Saya menjadi teringat masa kecil dulu, saat saya rajin mendengarkan rekaman ceramah Zainuddin MZ tiap pagi. Ada cerita dari beliau, bahwa nanti–katanya, kita akan memasuki pengadilan akhirat dengan diberi kitab catatan amal, juga diputar video rekaman kehidupan kita. Seolah-olah kita menonton televisi raksasa yang memutar film kita, di mana kita jadi pemeran utamanya. Maka terungkaplah apa-apa saja perbuatan baik dan buruk kita. Zainuddin menceritakan, sungguh malu kita pada saat itu, jika yang diputar adalah berisi perbuatan maksiat kita. Apa-apa yang di dunia kita sembunyikan, tidak ada yang terlewat dari pengawasan Allah SWT, qodhi robbul jaliil, hakim yang seadil-adilnya.

Saat itu, saya masih sulit membayangkan bagaimana mungkin semua perilaku kita akan direkam dan diputar ulang. Sungguh, kini, bayangan sulit itu menjadi hilang. Kita bisa menyaksikan detik-detik menjelang terjadinya ledakan bom, kita juga bisa melihat reality show bagaimana orang marah, kaget, senang, sedih, melalui sebuah hidden camera. Kita juga bisa menyimak pembicaraan telepon orang lain yang merupakan tersangka kasus kejahatan. Tidak ada yang sulit, tidak ada yang tidak mungkin. Apalagi bagi Allah, Sang Maha Mengetahui. Tidak ada yang mustahil bagi Dia untuk mengungkap kembali apa-apa yang sudah kita lakukan selama di dunia.

Lihatlah perilaku kita selama ini, bagaimana detailnya kita melihat angka-angka pada rekening tabungan kita. Kita periksa ulang kapan dan berapa kita setor, ambil uang, transfer ke teman, benarkah pendebetan pada kartu belanja kita, dan sebagainya. Dan, bank berhasil mencatat detail itu dengan tepat, bahkan dengan dua angka di belakang koma. Sungguh merupakan pencatatan yang sangat teliti.

Kalau bank saja sebegitu telitinya, maka apakah ada keraguan kita kepada Allah yang akan mencatat detail rekening amal-dosa kita dengan derajat ketelitian yang sangat-sangat tinggi. Tepat setepat-tepatnya. Tentu kita tidak ragu.

Namun, sudahkah kita secara sangat hati-hati mengisi rekening kehidupan kita dengan amal-amal sholeh dan menjaga diri dari semua perbuatan dosa? Sungguh, Allah sangat cepat dan tepat perhitungannya.

Artalyta, Anggodo, Rani, Antasari dan sebangsanya, sesungguhnya sedang memberikan pelajaran kepada kita agar hati-hati dalam hidup, agar senantiasa mengisinya dengan amal baik, dan menghindar dari dosa-dosa. Kalaulah dosa itu sudah terlanjur diperbuat, masih ada kesempatan bagi kita untuk menghapus rekamannya dengan bertaubat, taubatannashuha, taubat yang sebenar-benarnya.

“...dan diletakkan buku (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang-orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘betapa celaka kami, buku apa ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar, melainkan tercatat semuanya,’ dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun.” (Al-Kahf: 49)#


3 pemikiran pada “… Rani, Antasari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s