Selamat Berjumpa di Keluarga-Surga

Assalaamu’alaikum

Alhamdulillāh. Allōhumma şolli ‘alā sayyidinā muhammadibni ‘abdillāh. Wa ba’d.

Halo, Sayank? Apa kabar Mel di sana? A harap Mel-Ayank baik-baik saja, sebagaimana Aa di sini dalam keadaan sehat wal afiat. Lama tak menulis surat cinta buatmu, Sayank, bukan berarti rasa cintaku padamu berkurang. Justru sebaliknya, bertambahnya bilangan waktu, bertambah pula rasa cintaku padamu. Tentu, tidak sampai melebihi cintaku pada-Nya, karena Dia adalah segalanya. Namun timbunan cinta padamulah yang kadang membuatku sesak, kelu, tak mampu berucap, tak mampu menulis, tak mampu berekspresi sebagaimana wajarnya pecinta mengungkapkan cintanya.

Maka Aa bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kelapangan ekstra pada dada ini. Memilikimu, adalah anugerah sangat indah. Jauh lebih indah dari mawar terbiru yang bertetesan embun sekali pun. Jauh lebih dahsyat dibandingkan hujan-es lebat yang kini tengah mengguyur Bandung. Jauh lebih tenang dibandingkan senyapnya tengah malam. Jauh lebih Aa syukuri dibandingkan pengalaman syukurku akan nikmat-nikmat-Nya yang lain.

Aa berharap kita bisa terus bersama berjalan menuju ridho-Nya yang Mulia. Caranya? Ah, Mel juga pasti sudah tahu. Yuk, kita sepakati bahwa keluarga yang kita ciptakan mesti menjadi miniatur indahnya Islam, dalam berbagai aspeknya. Mulailah dari diri kita untuk menepis pengaruh-pengaruh materi dalam menilai mulia atau tidaknya kedudukan seseorang. Berproses, tentu saja.

Ikutlah merenung denganku, Sayank, saat Aa mendapat jawaban dari seorang anak autis yang ditanya tentang hadiah apa yang dia harapkan dariku saat dia berulang tahun. Dia menjawab, “…cukup bagiku doa, Pak.” Wuih, hebat. Memang nampaknya kita sedang diajari untuk terus bergerak meninggalkan standar kebanyakan orang yang menilai hadiah, melulu sebagai bentuk kebendaan. Kita juga mesti terus melesat cepat meninggalkan gaya lama membangga-banggakan materi dan kematerian. Bukankah Allah menciptakan makhluk-makhluk-Nya tidak hanya materi, tetapi juga immateri?

Kini saatnya aqidah, keyakinan, kekhusyuan ibadah, ilmu, wawasan, kearifan, hikmah, kegigihan, skill, dakwah, mendapatkan supremasi yang jauh lebih dihargai dibandingkan sekadar uang, rumah, kendaraan, dan rekan-rekan sejawatnya. Bukankah Allah memfirmankan bahwa “inna akromakum ‘indallōhi atqōkum”?

Alangkah indahnya jika ke depan anak-anak kita lahir, mereka saling iri akan jumlah rakaat
sholat sunnah saudaranya. Mereka saling berlomba memperbaiki tilawah, tahfizh, tafsir dengan saudara, juga ibu dan bapaknya. Mereka berkompetisi untuk memenangkan lomba sedekah terbanyak. Mereka berbangga dengan banyaknya “doa-rahasia” bagi saudara dan teman-temannya.

Hihi, yuk, kita mulai dari diri kita, calon ibu dan bapak mereka. Karena anak adalah cerminan orangtua. Insya Allah, kelak, anak-anak kita yang berusia 5 tahun itu, akan meminta hadiah ulang tahun dari orangtuanya. Hadiahnya: uang dua ribu rupiah. Lho, kok? Iya, buat menggenapkan celengan yang baru dibongkarnya, buat diberikan kepada teman-tidak-mampunya, yang ingin membeli buku dan alat-alat tulis. Oh…

Selamat berjumpa, di keluarga surga.#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s