Jangan Didik Anak Jadi Penipu

Jangan didik anakmu menjadi penipu. Kepahaman ini muncul berkat tulisan Ust. Salim. Beliau telah mengingatkan kita dengan sebuah kisah yang biasa kita temui sehari-hari. Lihatlah seorang anak kecil yang merengek saat orangtuanya mau pergi. Ia mau ikut. Namun karena aneka keterbatasan, anak itu tidak diizinkan ikut saat itu. Maka apa yang biasa dilakukan sang ortu itu? Ngabebenjokeun, istilah Sundanya. Memalingkan perhatian anak pada hal lain, lalu si ortu pergi mengendap-endap di balik perhatian sang anak pada sesuatu yang lain itu.

“Yuk ikut sama Nenek lihat ayam…,” begitu ujar sang nenek yang memang ikut berkonspirasi. “Tuh.. ayamnya lucu sekali ya…”

Sang Anak terdiam sejenak, terhibur sama ayam. Tetapi berikutnya ia sadar bahwa ortunya telah pergi tanpa sepengetahuannya. Ia menyesal sekali ortunya telah pergi. Kata hatinya bergumam…: “Ugh, dasar ortuku penipu, ngajak liat ayam hanya buat malingin perhatianku saja… oh, berarti menipu itu boleh ya… awas, ntar kalo dah gede, aku mau jadi penipu juga ah…”

Maka, bagaimanakah semestinya?#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s