Siapa Berhak Beridul Fitri

Alhamdulillah, kini kita sudah berada bulan Syawal kembali. Saat ini, semua muslim berada dalam suasana idul fitri yang biasanya diisi dengan bersilaturahim, saling mengunjungi dan saling memaafkan kesalahan. Semua itu dilakukan dengan harapan agar bisa kembali kepada fitrah.

Nah, sejatinya apa sih makna fitrah itu?

Setidaknya ada tiga keadaan dimana manusia berada dalam keadaan fitrah. Pertama, saat berada di alam ruh. Saat semua bakal manusia berkumpul di sana lalu diminta persaksian akan ketuhanan Allah. Semuanya bersaksi pada saat itu bahwa Allah adalah Rabb. Allah adalah Tuhan, Pencipta, Pengatur, Pemelihara, Pemberi rizki, dan berbagai makna Rabb lainnya. Hal ini sebagaimana diingatkan Allah dalam Al-A’raf ayat ke-172.


Kedua, saat manusia baru lahir. Rasulullah bersabda bahwa setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah. Orangtuanyalah yang menjadikan mereka Yahudi, Majusi, Nasrani. Maksudnya di sini adalah bahwa setiap bayi yang baru lahir berada dalam keadaan Islam, maka lingkungannnyalah kemudian yang akan berpengaruh: apakah bayi ini tetap dalam keislaman, atau kemudian berubah menjadi agama lain.

Ketiga, saat manusia berikrar syahadah menyatakan keislamannya. Al-quran surat ar-Ruum ayat ke-30 memerintahkan kita untuk selalu menghadapkan wajah (penghambaan) kita untuk Dinullah (Islam), tetap berada dalam fitrah Allah. Siapapun tentu memiliki masa lalu yang boleh jadi tidak selalu berada dalam kebenaran. Nah, ikrar syahadah, kembali kepada Islam, secara otomatis menghapus dosa-dosa masa lalu tersebut.

Rasul SAW menyabdakan bahwa siapapun muslim yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka ketika keluar dari Ramadhan, mereka akan kembali steril dari dosa, laksana bayi yang baru lahir.


Nah, jadi makna ‘kembali kepada fitrah’ pada suasana idul fitri yang kini didengung-dengungkan, adalah kembali kepada perjanjian persaksian pernyataan keTuhanan Allah. Kembali menyaksikan bahwa Allah juga adalah pengatur, bahwa Allahlah Sang Pemelihara kehidupan ini. Maka tidak ada idul fitri bagi orang-orang yang sombong, tidak mau menjadikan Allah sebagai pengatur hidupnya.

Dalam konteks ini kita juga mengerti bahwa ‘kembali kepada fitrah’ artinya kembali kepada Islam sebagaimana bayi yang baru lahir. Bukan kepada Yahudi, Nasrani, atau Majusi, atau aneka keyakinan lain yang bukan Islam. Idul fitri hanya berlaku bagi orang-orang yang mau kembali kepada Islam: tunduk patuh hanya kepada Allah, sebagaimana sejatinya makna Islam.

Maka, semoga saja kita termasuk kepada golongan orang yang berhak beridul fitri, dengan kesadaran penuh bahwa Allah adalah Penguasa kita, dan kita hanya tunduk kepada-Nya saja. Tidak musyrik. Ituh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s