Menyongsong Pelajaran Ramadhan

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah, 2: 183)

Seorang teman mengaku sangat senang begitu tahu Ramadhan bakal segera tiba. Cukup aneh, karena dia itu seorang non muslim. Saya tanya alasannya. “Saya paling suka kolak pisang dan kolang-kaling,” jawabnya. Ternyata, kegembiraan dia akan hadirnya Ramadhan hanya karena kerinduannya pada makanan kesukaannya bakal segera terobati. Wajar saja, karena memang boleh dikata sangat jarang kita menemukan kolang-kaling dan kolak pada hari-hari di luar Ramadhan.

Namun tentu Ramadhan tidak boleh kita maknai hanya sekadar pindah jam makan dengan menu tambahan yang lebih istimewa. Karena dalam khutbahnya, Rasulullah SAW menyebut Ramadhan sebagai bulan yang besar, yang penuh berkah yang menaungi kita semua. Apa makna dibalik kata “berkah” Ramadhan? Apa pula pelajaran yang Allah berikan kepada kita dengan perantaraan Ramadhan?

Seorang penulis asal Amerika yang bernama Jamie C. Miller membuat sebuah buku yang cukup menarik. Buku itu berisi 50-an permainan sederhana untuk anak-anak, yang di setiap permainan itu terkandung nilai-nilai moral seperti kejujuran, percaya diri, keberanian dan sebagainya. Dalam pengantar bukunya, Miller mengatakan bahwa setiap orang tua akan mempertanyakan dirinya sendiri pada saat dia melepas anaknya yang beranjak remaja lalu dewasa, “apakah saya sudah cukup mengajarkan sopan santun? Apakah saya sudah mengajarkan cara mengatasi kekecewaan? Sudahkah saya mengajarkan bagaimana jadi teman yang menyenangkan?” Sebuah ekspresi orang tua yang bertanggung jawab mendidik anak-anaknya. Maka disusunlah buku yang diberi judul 10-Minute Life Lessons for Kids tersebut.

Saya lalu membaca diri. Kalau saya mendapat kepercayaan mendidik anak-anak, nilai-nilai moral apakah yang akan saya ajarkan? Bagaimana pula cara mengajarkannya? Ternyata kalau kita maknai, bulan Ramadhan menjawab pertanyaan itu semua.

Iman, Jujur, Sabar, Empati, Peduli, Syukur, Taqorrub

Puasa adalah ibadah yang sangat personal. Tak ada seorang pun yang tahu secara pasti apakah kita sekarang sedang berpuasa atau tidak. Allah memerintahkan puasa dengan diawali panggilan “hai orang-orang yang beriman”. Hanya orang yang beriman saja yang diperintah puasa, dan hanya orang beriman saja yang akan sanggup menjalankannya. Maka lahirlah sifat-sifat terpuji dari keimanan itu. Seseorang ternyata sanggup bertahan tidak makan dan minum sepanjang hari, meskipun terdapat banyak makanan di sekitarnya dan tak ada orang lain yang tahu kalau mungkin dia memakannya. Inilah keimanan yang membuahkan kejujuran. Merasa selalu diawasi Allah (ihsan), hingga dia terpelihara dari berbagai tindak kemunkaran.

Saya teringat sebuah pengalaman saat mengajar di kelas di bulan Ramadhan tahun lalu. “Pak…, aku laperlemes, ngantuk, ngga mau belajar…” keluh seorang anak kelas 1. Sebuah ungkapan wajar dari seorang anak yang sedang belajar berpuasa. Saya lalu melemparkan permasalahan itu ke teman-temannya, “Bagaimana ya caranya agar kita bisa melupakan rasa lapar…?” Anak-anak pun menyahut, “Berwudhu aja, Pak…; baca buku aja; maen game aja; lupain aja; ‘lapar’nya jangan disebut-sebut terus…”

Anak-anak itu sedang memberikan saya sebuah pelajaran penting. Begitulah, ternyata puasa mereka adalah jalan untuk pelajaran nilai kesabaran. Dan cara untuk sabar itu sederhana: palingkanlah perhatian kita ke hal yang lain. Persis seperti yang juga diajarkan Rasul ketika kita sedang marah, maka bersabarlah dengan duduk. Kalau masih marah juga, berbaringlah. Kalau masih marah juga, ambillah air wudhu dan shalatlah dua rakaat. Intinya, ubahlah perhatian kita dari sumber kemarahan.

Masih banyak pelajaran lain dari puasa dan Ramadhan. Rasa lapar kita yang hanya di siang saja, melahirkan empati pada kaum fakir yang harus merasakan lapar tanpa tahu kapan mereka bakal kenyang. Maka kita pun menjadi peduli pada mereka. Hadirlah kewajiban zakat fitrah di bulan Ramadhan. Infak dan sedekah dianjurkan untuk dilipatgandakan. Bantuan berupa makanan, pakaian, keuangan, hanyalah menjadi setitik kecil ekspresi syukur kita atas banyak nikmat Allah pada kita. Kita pun begitu semangat beribadah dan taqorrub (mendekat) pada Allah. Tarawih, tadarus, dzikir, doa, i’tikaf, bakal mengisi waktu-waktu kita yang biasa diisi melamun, ngerumpi, nonton tayangan sia-sia, dan juga perbuatan-perbuatan dosa.

Rasanya buku yang disusun James C. Miller itu cukup baik untuk kita praktekkan dalam upaya mengajarkan nilai-nilai pada anak-anak kita. Namun ternyata Ramadhan telah secara khusus dibuat oleh Allah sebagai sarana pembelajaran nilai yang lebih banyak. Maka pergunakanlah bulan Ramadhan ini untuk mendidik kita dan anak-anak kita dengan memaknai berbagai aktivitas di dalamnya.

Saya pun semakin yakin dengan pelajaran Ramadhan itu ketika melihat senyum anak yang mengeluh tadi telah mengambil air wudhu. “Iya, Pak. Sekarang aku tahu kalau laparnya ingin hilang, wudhu aja, jadi seger lagi deh…” Dalam hati terdengar bisikan setan, “jangan-jangan dia kumur-kumurnya sambil minum…”

Selamat belajar dari Ramadhan.# (Heru Be)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s