Belajar Pada Anak-anak


Kunci ilmu adalah tidak malu untuk bertanya dan mendengar dengan baik” (Al-Qarni)

“Ah… Bapak mah gitu, janji-janji aja terus, tapi gak pernah ditepati…” kata-kata itu meluncur lancar dari mulut manis salah seorang anak kelas 3. Saat itu ia sedang mengomentari ungkapan saya yang memang menjanjikan sebuah simulasi perang Badar dan Uhud bagi mereka. Sejenak saya tertegun. Memang benar, janji itu pernah saya ungkapkan beberapa bulan yang lalu, dan belum sempat terlaksana.

Saya jadi diingatkan akan sebuah pesan dari Rasulullah SAW, “Tepatilah janji-janjimu pada anakmu, sesungguhnya mereka hanya tahu kalau kamulah yang memberi mereka rezeki…” Begitu kurang lebih sabda beliau. Saya bersyukur mendapat pelajaran penting dari anak-anak. Belajar untuk menepati janji.

Long life learning. Pembelajaran seumur hidup. Prinsip itulah yang semestinya tertanam dalam diri setiap pribadi yang menginginkan perubahan positif dalam kehidupan. Terlebih bagi orang tua dan guru, sebagai pendidik dan penanggung jawab langsung perkembangan anak-anak. Dan pembelajaran itu bisa didapatkan dari berbagai sumber belajar. Apa saja dan siapa saja, termasuk anak-anak itu sendiri.

Dalam satu kesempatan mengisi jam pelajaran di kelas, seorang anak tiba-tiba mengacungkan tangan dan bertanya, “Pak, malam pertama itu kapan sih?” Pertanyaan yang sempat membuat anak-anak di kelas menjadi gaduh dan guru-guru tersenyum simpul. Saya lalu berusaha menerangkan sesederhana mungkin yang bisa dimengerti oleh anak itu. “Oh… aku kira malam pada saat bayi baru lahir…” ungkapnya tanda mengerti. Saya senang karena anak itu puas. Dan saya lebih senang lagi karena saya mendapat pelajaran penting melalui kasus tadi: tetap pertahankan rasa ingin tahu, dan carilah jawabannya.

Andi Yudha Asfandiar, seorang praktisi dunia anak, pernah mengungkapkan bahwa salah satu kelemahan kebanyakan kita adalah tidak mau memproses apa yang kita tidak mengerti menjadi mengerti. “Pada saat kita membaca buku atau koran, kemudian kita menemukan kata asing yang tidak kita mengerti, kita tidak mau atau tidak segera membuka kamus untuk menemukan maknanya,” ujarnya dalam sebuah diskusi yang saya ikuti. Saya pikir benar juga. Dan saya harus belajar dari anak-anak yang selalu memiliki good sense dalam mempelajari apapun yang ada di sekelilingnya.

Begitulah. Anak-anak memang karunia dan amanah dari Allah SWT yang menuntut tanggung jawab kita mendidik mereka. Namun ternyata Allah juga telah menjadikan mereka media untuk mendidik diri kita sendiri yang kadang lupa, lalai, atau bahkan melupakan dan melalaikan nilai-nilai yang seharusnya menjadi personal competencies setiap orang. Kejujuran, menepati janji, semangat belajar, hanyalah sebagian dari nilai-nilai itu.

Saya menjadi tergerak untuk selalu berupaya mendapatkan pembelajaran dari anak-anak. Saya sering menyaksikan seorang anak menegur temannya yang berbuat salah, dan juga mengajak berbuat baik, “Hei, duduknya yang baik gimana…? …Bicaranya satu-satu dong… …Dengarkan dulu pak gurunya dong… …Sini, aku aja yang ajarin kamu baca iqro, aku kan udah iqro 6…” Sungguh sebuah pemandangan yang menakjubkan tentang semangat amar ma’ruf nahi munkar. Lebih hebat lagi, semangat itu tak melulu ditujukan kepada teman-temannya, tetapi juga kepada guru-gurunya. “Pak, ngga boleh marah-marah loh sama anak-anak… Bu, kok minumnya kaya` kuda sih, sambil duduk dong, Bu!” sebuah ekspresi spontan mengomentari ketidaksesuaian kenyataan dengan nilai-nilai yang mereka pahami.

Semakin intens saya cermati berbagai pembelajaran nilai dari anak-anak, semakin banyak pula nilai yang saya dapatkan. Hingga kadang-kadang saya tidak menganggap mereka sebagai anak-anak lagi. Tetapi teman yang juga bisa diminta pendapatnya tentang permasalahan kita. Dan hasilnya sungguh luar biasa, mereka ungkapkan ide-ide kreatif yang hebat. “Pak, saya punya usul buat sekolah kita, gimana kalo di sekolah ini disediakan kotak saran. Jadi semua orang bisa menuliskan sarannya dan memasukkannya di kotak itu… Terus, ada usul lagi, Pak. Gimana kalo di setiap kelas ada seorang ketuanya. Nah, ketuanya dipilih kaya` pemilu gitu deh, Pak. Pake pencoblosan. Kan seru, Pak… Eh, masih ada ide lain, Pak: gimana kalo kapan-kapan fieldtripnya umroh ke Mekkah. Kan hebat, kita bisa terkenal, masuk TV, seru kan sekolah kita jadi terkenal… Nah, masalah ongkosnya kita nabung aja dari sekarang, semoga aja di kelas 6 kita bisa berangkat…” Dalam hati saya bergumam, “subhaanallaah…”***Heru Be

Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakan” (Ali bin Abi Thalib)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s