Empat Pilar Pernikahan Barakah


Waktu itu, beberapa hari setelah akad nikah, saya berpikir bahwa pernikahan yang kami lalui pasti tidak akan mudah. Bakal banyak cobaan dan godaan yang kami hadapi (long distance tea, atuh). Kami harus kuat, dan saya harus bisa menguatkan istri saya. Maka, malam itu, saya sempat berdiskusi dengannya tentang hal-hal yang bisa menjadi pilar kebarakahan pernikahan. Saya lalu mengurutnya menjadi 4 hal:


1. Ikhlas
Ikhlas ini bukan maknanya “rela” atau “tanpa terpaksa” seperti yang dipahami banyak orang. Ikhlas yang saya maksud adalah seperti makna sejatinya, yaitu “lillah”, karena Allah. Artinya, pernikahan yang terjadi adalah harus karena Allah, harus dalam rangka ibadah pada Allah, dalam rangka memperjalankan qudroh-irodah Allah. Bukan karena harta, kecantikan, gengsi, atau alasan-alasan picisan lainnya.

Hal ini penting sekali karena Allah-lah yang akan menjadi penopang terkuat atas cobaan sedahsyat apapun dalam rumah tangga yang dijalani. Jika suatu saat, misalnya, suami istri berselisih pendapat tentang sesuatu sampai mentok, maka pernikahan yang ditopang “ikhlas” akan mengembalikan penyelesaiannya pada aturan Allah SWT. Mereka pasti akan sepakat. Mereka pasti selamat.

Kelak ketika memiliki anak, pendidikan seperti apa yang akan diberikan kepada mereka. “Pernikahan ikhlas” pasti akan mengutamakan agar anak-anak bisa menjadi hamba-hamba Allah yang sebenarnya. Tugas kependidikanannya pun tidak begitu saja diserahkan pada orang lain, tetapi akan dijalankan oleh kedua orangtuanya. Masalah teknis kemudian bekerja sama dengan sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan, itu soal lain. Yang pasti orang tuanya memiliki kesadaran bahwa anak mereka adalah amanah dari Allah. Merekalah yang mesti dominan mewarnai kehidupan anaknya. “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, maka tergantung orangtanya apakah ia kelak menjadi yahudi, nasrani atau majusi.” (Al-Hadist)

2. Jujur
Jika Anda sudah menikah, sesekali tanyalah pasangan Anda seberapa persen ia percaya pada Anda. Berapa persen ia meyakini kejujuran setiap perkataan Anda. Anda mungkin akan tercengang mendengar jawabannya. Bisa jadi ia menjawab 100%, alhamdulillah, atau 85%, 50% atau mungkin 12,5%. (Hati-hati, tidak setiap orang bisa mengkongkritkan hal-hal yang abstak seperti ini, bisa-bisa pasangan Anda malah marah, hehe…).

Maksud saya di sini adalah bangunlah sistem komunikasi jujur dengan pasangan Anda. Anda adalah dia. Dia adalah Anda. Apa yang Anda pikir dan rasakan, mesti juga menjadi rasa dan pikiran dia. Apa yang Anda lakukan sepanjang siang ini, pergi kemana saja, kalau memang dia bertanya, kenapa Anda menjawab hal yang bukan fakta sebenarnya?

Kejujuran yang Anda mulai, akan melahirkan kepercayaan 100% dia pada Anda. Nanti dia pun akan 100% jujur pada Anda. Maka akan tentramlah kehidupan keluarga Anda karena meskipun Anda tidak sedang bersama dia, Anda yakin dia akan bisa menjaga dirinya. Bi-idznillah.

Saya sangat kasihan pada seorang teman yang dia tidak memiliki kepercayaan pada istrinya. Jadinya paranoid. Saat dia sedang bekerja di kantor, tergambar di pikirannya kalau-kalau istrinya sedang jalan dengan pria lain. Huh. Sungguh berat beban pernikahan yang tidak diberi pilar “jujur”.

Kalau Anda memang tidak punya banyak uang, kenapa harus berkata atau berprilaku seolah-olah Anda punya banyak uang. Nanti Anda sendiri yang akan tersiksa karenanya. Sudahlah, apa adanya saja.

Tentu, “pilar jujur” ini bisa ditegakkan setelah kita tegak dalam “pilar ikhlas” sebagai pilar yang pertama. Kedua pasangan yakin pada pengawasan Allah, berjalan sesuai dengan aturan Allah, maka kemudian saling jujur dan terbukalah apa adanya.

3. Saling mengerti dan memahami
Belajarlah berempati, untuk berkomunikasi. Mengertilah bahwa Anda dan pasangan masing-masing punya perbedaan. Perbedaan latar belakang keluarga, cara pandang, cara mengambil keputusan, pengendalian emosi dan sebagainya, yang jika tidak kita pahami akan rentan dengan cekcok dan perselisihan.

Perbedaan itu memang tak terelakkan. Jenis kelaminnya saja beda, pasti isi kepalanya juga beda, pola hidup sehari-hari juga tidak akan sama. Anda tidur dengan lampu dimatikan, belum tentu pasangan Anda. Anda biasa cuek dengan tata ruang kamar, belum tentu pasangan Anda. Ini rawan cekcok. Hehe, saya teringat cerita istri saya yang mengatakan bahwa teman sekantornya pernah cekcok dengan suaminya hanya karena perbedaan cara mengeluarkan pasta gigi. Si istri lebih suka menekan cangkangnya dari ujung, sementara suaminya mesti dari pangkal dulu.

Begitulah, memang pilar saling mengerti dan memahami ini sangat perlu dimiliki oleh pasangan yang berharap pernikahannya barakah.

Saya juga ingin membagi teknik komunikasi “repok” yang diajarkan Kang Abud, guru ngaji waktu saya kecil, saat kami sowan di awal masa pernikahan kami. “Repok” ini diambil dari idiom bahasa Sunda. “Rep”—dengan bunyi vocal ‘e’ seperti pada kata ‘remaja’—artinya diam. “Pok” artinya bicara. Saat yang satu sedang “pok”, yang lain harus “rep”. Teknik ini sangat berguna terutama saat suami istri sedang berselisih pendapat. Begitulah, pahami dulu pasangan kita, setelah itu baru giliran Anda. (Nyambung ngga ya?)

4. Saling mengisi
Pernikahan barakah adalah pernikahan yang di antara keduanya terjadi upaya saling mengisi kekurangan itu dengan kelebihan yang kita miliki. Tutuplah aib pasangan kita, lalu isilah dengan kelebihan yang kita punya.

Saya sangat menyadari kalau saya punya banyak kekurangan. Tetapi saya mau belajar dari kelebihan yang istri saya miliki. Begitu pula sebaliknya. Jadi saya siap membantu istri saya pada celah kelemahan yang ia punya.

Jika sudah berjalan seperti itu, insya Allah, si suami akan merasa sangat beruntung punya istri. Si istri juga merasa sangat beruntung punya suami. Keduanya terus bergerak memperbaiki diri, continuous improvement, juga saling membanggakan pasangannya. (ah, Mel-ayank, Aa banggaaa deh padamu…)

Demikianlah, lebih dan kurangnya mohon maaf. Terima kasih atas perhatiannya. Walhamdulillah#

Satu pemikiran pada “Empat Pilar Pernikahan Barakah

  1. berusaha saling memahami dan jujur pada pasangan qta…insyaalloh pasangan qta pun akkan bersikap demikian….hmmm so sweet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s