Pengabdian Sang Rumput

Ini tulisan istriku saat masih gadis…

Menjadi rumput di keluasan padang yang menghampar. Dengan hijaunya dan tebaran hewan-hewan yang merumput untuk memenuhi hajat kehidupan. Di atasmu mereka berbiak, bergembira, mencari makan, juga mengotorimu, menginjak-injak dan kemudian meninggalkanmu ketika kau tak lagi subur, kering bahkan sekarat mendekati kematian.

Namun kebahagiaan apa yang paling berharga bagi rumput kalau bukan atas kemanfaatannya. Menjadi rantai pertama energi yang kemudian mengalir sampai puncak rantai makanan yaitu pada hewan-hewan predator. Dari rumput, irama kehidupan dimulai sampai semua kembali lagi menghampiri dalam sebuah ajal ketika tiba merenggut. Terus bermanfaat, memancar tiap hari, tiap detik dan pada setiap hembusan nafas makhluk yang melata di muka bumi. Tidak ada kata terkira inilah pengabdian yang terindah dan teragung yang pernah kau berikan.

Kemudian musim kering yang tandus menghantam. Dengan halus kau usir hewan-hewan untuk meninggalkanmu agar mencari tempat yang lebih baik dan menjanjikan. Bukan pada padangmu, bukan pada dirimu. Karena kau tak akan pernah ingin berbagi penderitaan dengan mereka. Cukup kau tanggung sendiri.

Lalu jilatan api melumat tubuh-tubuh kurus keringmu. Disertai hembusan angin sepoi yang bersorai, memanasi api hingga dengan cepat membesar, kemudian menghanguskan seluruh tubuhmu. Akhirnya hanya meninggalkan puing-puing jelaga yang hitam.

Suasana kesenduan tanpa kehidupan yang membalut luka terbakar, seakan semua kenangan indah terhapus hangus dalam pori-pori tanah yang panas terpanggang api dan teriknya matahari. Namun kau belum mati.

Dalam ketakzimannya rumput-rumput tentu tak berdosa, namun pengabdian dan doa-doanya terus meluncur sepanjang waktu atas karunia yang dilimpahkan untuk dirinya. Karunia teragung yaitu kehidupan itu sendiri, “Ya Rabb, hidupkan generasi pengganti kami dari akar-akar hamba yang sengaja kau selamatkan di pori-pori bumi dari amukan api yang telah menjadikan tubuh-tubuh kami sebagai pupuk untuk generasi kami mendatang. Jadikanlah generasi penggantiku adalah generasi yang kau cintai dan hanya mencintaiMu. Karena sebuah kemuliaan yang tiada tara selain sebuah kecintaan pada-Mu dan kemanfaatan dari kami yang dapat dipetik dari makhluk-MU yang melata di muka bumi ini”.

Maka, tatkala bergulung-gulung mendung hitam membawa kabar baik untuk semua kehidupan di bumi. Bersama tercurahnya hujan, sang akar rumput pun bercucuran dan berlinang air mata kesyukuran. Dengan hujan, bumi dibasahi dan dilunakkan air yang menggenangi danau-danau, kubangan-kubangan dan relung-relung hati yang sebelumnya kering dari tetesan air keindahan dan kasih sayang. Sang rumput bangkit dengan tunas-tunas yang baru, kemudian akar semakin sibuk mengumpulkan zat-zat kehidupan yang telah diwariskan generasi sebelumnya. “Aku akan lebih baik dari pendahuluku”, tekad sang rumput muda, akan kuundang semua makhluk hidup dengan ranumnya tubuhku yang takkan habis dimakan. Namun akan senantiasa tumbuh dengan kehijauan lagi lezat di mulut makhluk yang memamahnya. Sampai semua kehidupan ini secara berantai termakmurkan karena hijaunya tubuhku.

Sang rumput muda tumbuh dengan gemuk kehijauannya. Menyimpan gizi yang tinggi tiada tara bagi makhluk-makhluk pemamah biak. Demikian juga sang akar menyesap dengan gairah semangat kehidupan yang diwariskan pendahulunya, untuk menyediakan semua kebutuhan gizi bagi sang rumput muda.

Kehidupan di padang telah pulih kembali, bersamaan dengan binatang-binatang yang dulu mengungsi saat kemarau dan kebakaran melanda. Dengan keletihan dan tubuh kurus, hewan-hewan tersebut bersua kembali dengan telaga kehidupan padang rumput yang sungguh tak terkira sebelumnya. Mata-mata berbinar penuh kesyukuran, karena Allah telah menyediakan rizki yang tak terkira baginya. Rumput-rumput ranum hijau yang menyegarkan pandangan, menguatkan dan menggemukkan. Seakan mereka sudah kenyang walau hanya memandangnya saja. Kehidupan di padang itu menjadi hidup dan lebih hidup lagi.

Sang rumput berlinang air mata, bukan karena kesedihan, namun karena Allah telah menghamparkan amanah baginya, dan air mata itu adalah kesyukuran atas amanah yang ditunaikannya.

Syahdan angin kemarau yang tandus dan kering menggulung, mengabarkan bagi seluruh kehidupan untuk bergerak ataupun bertahan. Kemudian hewan-hewanpun berhijrah meninggalkan padang untuk bertahan ke tempat yang lebih baik. Ketika semua telah mengungsi maka perlahan-lahan, tubuh sang rumput mengering disapu oleh angin kemarau yang menyedot air dalam tubuh-tubuh renta yang berlumuran pengabdian yang tak akan ternilai oleh apapun. Dengan keikhlasan dan keridhoan Rabbnya, jiwa itu akan berlabuh di keridhoan itu. Namun ada satu yang tak terlupa dari mulut sang rumput, “Ya Tuhanku ijinkanlah hamba-Mu untuk memanjatkan doa; Jadikanlah generasi penggantiku adalah generasi yang mencintai dan Engkau cintai ya Rabb, generasi pengganti kami yang lebih baik dari kami”. Dengan cucuran linang air mata sang rumput menuntaskan doanya, dan dengan keikhlasan dan keridhoaan dari Sang Rabb ajalnya dilabuhkan ke sisi keridhoaan-Nya. Angin berhembus kehilangan, demikian panas terik matahari meratapi kepergian sebuah pengabdian. Namun semua mempunyai penuntas, semuanya mempunyai keberakhiran, semuanya mesti dipergantikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s