‘Ini Keluar Ngga Ya di Soal UN?’

Tulisan ini saya persembahkan spesial buat istri yang sedang kesulitan menyusun alur pikir tentang rumitnya implementasi kurikulum pendidikan di Indonesia. Saat menulis ini, juga terbayang wajah salah seorang teman: Kang Dadang, seorang pakar pendidikan asal Cisewu yang dalam rentang waktu lebih kurang dua tahun (2001-2003) selalu saya jadikan teman diskusi yang bernas tentang kurikulum, sekolah, guru, dan segala sesuatu yang berkelindan dengan penataan pendidikan di Indonesia. Terus terang saja, saya merindukan suasana itu.

Awalnya, saya ingin menjuduli tulisan ini dengan “Mempertanyakan Arah Pendidikan Kita”, namun karena terlalu banyaknya variabel bahasan: ideologi, perundang-undangan, anggaran, infrastruktur, guru, birokrasi, masyarakat, dan sebagainya, maka di sini saya fokuskan saja dulu pada salah satu variabel: kurikulum.

Saya tidak ingin berlelah-lelah memahami kata ‘kurikulum’ dengan berbagai definisi dari para pakar. Cukuplah saya sampaikan di sini bahwa yang saya maksud kurikulum dalam tulisan ini adalah rangkaian program pembelajaran yang mesti dikuasai siswa dalam rentang waktu tertentu. Kurikulum ini tentu mengarah pada harapan tercapainya tujuan pendidikan nasional. Bahwa tujuan pendidikan nasional pun cukup menantang untuk didiskusikan, biarlah kita simpan saja tema ini buat kesempatan lain. Oh iya, di sini, saya membatasi pembahasan hanya pada kurikulum jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Sejauh pengetahuan saya, dalam kisaran waktu dua dekade terakhir saja, kurikulum sudah berubah-ubah sebanyak—paling tidak—empat kali: kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum 2004 (KBK), kurikulum 2006 (KTSP). Ini belum termasuk suplemen kurikulum dan penyempurnaan Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) yang ada pada rentang waktu tersebut. Perubahan kurikulum ini—kabarnya, merupakan penyesuaian terhadap perubahan sosial, politik, ekonomi, juga perkembangan iptek.

Secara teoretis konseptual—halah, makhluk apaan tuh ;p, saya menyimak adanya upaya perbaikan dari para pembuat kurikulum untuk terus menerus meningkatkan kualitas pendidikan kita. Kurikulum 1984 misalnya, mengakomodasi pembuatan program studi baru di SMA untuk menjawab tantangan dunia kerja selepas sekolah. Kurikulum ini juga memfokuskan perhatian para guru pada beberapa tujuan instruksional dalam materi pengajarannya. Hal ini untuk menghindari pembelajaran yang ‘ngayayay’–ah entah bagaimana saya menerjemahkannya. Kurikulum ini juga mengarahkan pada keterlibatan siswa secara fisik dan mental yang kita kenal dengan system CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif).

Di tahun 1994, kita mengenal judul kurikulum baru: Kurikulum 1994. Di masa ini, terjadi perubahan dari pola pembelajaran semesteran menjadi catur wulan. Perubahan ini mengakibatkan pemendekan rentang masa evaluasi belajar, sehingga diharapkan siswa dapat menyerap materi lebih banyak pada suatu jenjang tertentu dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. Di periode ini pula kurikulum memberikan “pelayanan menyeluruh” dengan adanya berbagai petunjuk pelaksana, petunjuk teknis, buku teks wajib, disamping GBPP.

Lalu di tahun 2004, masyarakat mulai dikenalkan dengan istilah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Sampai saat ini saya belum sungguh-sungguh paham apa makna ‘berbasis kompetensi’ pada KBK ini. Mungkin, KBK ini merupakan desain kurikulum yang mensupport siswa sebagai peserta didik untuk memiliki keterampilan (kompetensi) tertentu. Kompetensi itu ditampilkan dalam sebuah ‘unjuk kerja’ yang dinilai oleh gurunya. Nah, namanya unjuk kerja, tidak melulu berupa tulisan tangan di lembar jawaban sebuah ulangan umum, namun bisa berupa kemampuan verbal atau kinestesi dan sebagainya. Tidak pula hanya dinilai hasil akhir, tetapi keseluruhan proses perjalanan belajar siswa dari keadaan awal, sampai kondisi terakhir. Di kurikulum ini, keragaman siswa baik dari sisi minat, cara belajar, maupun unjuk kerja, mendapatkan apresiasi yang sama dari gurunya. Maksud saya, guru semestinya memahami keragaman tersebut dan bisa memberikan penilaian berdasarkan keragaman itu. Maka guru juga tidak melulu hanya memberikan vonis angka pada setiap mata pelajaran, tetapi harus dibarengi dengan deskripsi akan makna dibalik angka-angka itu.

Di kurikulum 2004 ini, pembuat kurikulum telah memberikan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator juga materi pokok yang menjadi panduan guru dalam menyampaikan pelajaran di setiap jenjang. Namun guru sangat diberikan keleluasaan untuk bisa menggunakan berbagai media sebagai sumber belajar. Tidak mesti selalu di dalam kelas, pembelajaran bisa berlangsung di mana saja, sekalipun di luar lingkungan sekolah.

Nah, melanjutkan semangat ideal KBK 2004, muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Secara dokumen, KTSP melenyapkan kolom indikator dan materi pokok pada KBK. Hal ini mengisyaratkan agar para guru atau sekolah sendiri yang membuat rumusan materi dan indikatornya. Di sinilah letak kedinamisan kurikulum ini. Guru, atau tim guru dalam sebuah satuan pendidikan (sekolah) memiliki wewenang penuh untuk membuat silabus, menentukan aktivitas pembelajaran, cara penilaian, juga kalender pendidikan sendiri. Setiap sekolah juga berhak membuat silabus muatan lokal sendiri. Dengan kondisi ini, setiap sekolah akan memiliki kekhasan masing-masing, dengan kompetensi unik lulusannya. Itulah makna Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Sayangnya, perubahan/perbaikan kurikulum dari masa ke masa ini, baru sebatas dokumen. Faktanya, banyak guru yang tidak paham makna sejati perubahan kurikulum. Mereka hanya tahu perubahan nama saja: dari CBSA ke KBK ke KTSP, tidak lebih. Paradigma pembelajaran, cara mengajar, penggunaan media, teknik penilaian, tetap saja mewarisi gaya kurikulum sebelumnya. Maka wajar saja jika banyak plesetan dari kepanjangan CBSA, KBK dan KTSP itu: Cul Budak Sina Anteng, Kurikulum Baheula Keneh, Kurikulum Tidak Semua Paham, Kurikulum Tidak Siap Pakai, dan sebangsanya. Plesetan itu sesungguhnya merupakan kenyataan di lapangan.

Tampak jelas ada jarak yang sangat menganga antara harapan pembuat kurikulum dengan kemauan dan kemampuan para guru sebagai ujung tombak pelaksana harapan itu. Jarak yang menganga ini semestinya tidak perlu ada, jika fungsi lembaga-lembaga pelatihan guru yang ada di setiap daerah bisa berjalan dengan baik.

Nah, kekurangsiapan guru dalam mengimplementasikan kurikulum terbaru nampaknya masih bisa dimaafkan: wajar. Yang sangat tidak wajar adalah apa yang kini dipertontonkan pembuat kebijakan (baca: pemerintah) yang mengeluarkan kebijakan tentang penyelenggaraaan Ujian Nasional (UN) untuk setiap jenjang pendidikan dasar dan menengah. Sungguh ironis: di satu sisi mereka mendorong para guru untuk kreatif bereksplorasi dalam mengajar dan menggali keberagaman potensi para siswa, di sisi lain mereka malah menyeragamkan soal yang diujiankan secara nasional sebagai penentu kelulusan mereka, itu pun hanya pada pelajaran Matematika dan Bahasa.

Penyelenggaraaan UN dengan pola seperti yang terjadi sampai saat ini, merupakan pelecehan terhadap kemampuan para guru dan pihak sekolah sebagai penyelenggara pendidikan. Bahkan secara tidak langsung, mereka melecehkan dirinya sendiri, dengan membuat kebijakan yang tidak sejalan dengan kebijakan sebelumnya. Padahal, sistem UN yang hanya mengukur sesisi pengetahuan, dengan mengabaikan aspek afeksi dan keterampilan, bukanlah cara evaluasi yang tepat. Bagaimana mungkin proses kreatif belajar selama—katakanlah, 3 tahun, bisa ditentukan lulus atau tidaknya hanya berdasarkan tiga hari mengisi beberapa lembar kertas ujian Matematika dan Bahasa.

Maka, kalau masih banyak guru yang tidak terlalu antusias dengan perubahan kurikulum, tidak terlalu bersemangat untuk memperbarui gaya mengajarnya, asal tahu saja, mereka sedang berpikir, “Ini keluar ngga ya di soal UN?”#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s