Menggugat Australia


Arya Perdhana – detiksport


AFP

<!–
–> Jakarta – Orang Australia seringkali dengan percaya diri merasa bahwa mereka lebih unggul dan lebih beradab dibanding orang Asia. Perasaan superior ini timbul barangkali karena mereka terdiri dari ras Kaukasoid alias berkulit putih. Secara ekstrem bahkan orang Australia disebut lebih Eropa ketimbang Eropa dan lebih Amerika ketimbang Amerika.

Sebagai bangsa berkulit putih, Australia kerap kali merasa terpencil di tengah tetangga-tetangganya yang berkulit kuning dan sawo matang, bermata sipit dan berambut hitam. Mereka secara sadar mengidentifikasikan diri mereka berbeda dengan tetangga di utaranya. Efek yang kadang muncul dari perasaan itu adalah rasa paranoid dan curiga yang berlebihan.

Sindroma superioritas ini sudah cukup surut dalam beberapa tahun belakangan; meski belum benar-benar lenyap. Pergaulan dunia yang semakin cair dan runtuhnya sekat-sekat ideologi yang terjadi di akhir 1990-an pada khususnya membuat perasaan itu menjadi tidak lagi kontekstual.

Jargon bahwa sepakbola sering kali mewakili kondisi sosial budaya sebuah bangsa bukan omong kosong. Sindroma superioritas bangsa Australia masih kerap muncul di lapangan hijau berukuran 110 x 70 meter tersebut.

Contoh terbaru adalah ketika Socceroos harus melawat ke Jakarta untuk menjumpai Indonesia di ajang kualifikasi Piala Asia 2011. Alih-alih membawa pemain-pemain mereka yang malang melintang di kompetisi Eropa, Pim Verbeek malah membawa sebuah tim yang murni berisi pemain yang berlaga di A-League, liga lokal mereka.

Bahkan Verbeek dan beberapa pemain Australia baru akan tiba di Jakarta pada Selasa (27/1), padahal pertandingan akan dilangsungkan pada Rabu (28/1).

Seperti ketika James Cook merasa ‘menemukan’ Australia, padahal di sana sudah bermukim kaum Aborigin yang dianggap sebagai salah satu kebudayaan tertua di dunia, demikian juga perasaan jumawa Australia di arena sepakbola.

Di saat negara-negara lain semacam Jepang, Korea Selatan, Iran atau China hanya ‘bisa’ mengirimkan pemain-pemain terbaik mereka di ‘halaman belakang’ kompetisi terbaik dunia di Eropa, maka Australia telah mengutus duta-dutanya memperkuat klub-klub teras. Apalagi bila dibanding dengan Arab Saudi yang, meski dianggap sebagai salah satu yang terbaik di Asia, tidak memiliki pemain yang merumput di Benua Biru.

Padahal, Australia adalah anak baru di kancah persepakbolaan Asia. Mereka baru bergabung dengan AFC pada tahun 2006 setelah sebelumnya berkutat di dalam kompetisi ‘Mickey Mouse’ melawan negara-negara Pasifik yang sama sekali tidak bisa bermain sepakbola, di mana skor ajaib seperti 31-0 tidak pernah terbayang akan terjadi di kompetisi antar negara.

Ketika Australia bergabung, Presiden AFC Mohammed Bin Hammam memasang ekspektasi tinggi. “Sebagai sebuah negara maju sepakbola, Australia membawa sebuah perekonomian yang juga maju dan inilah yang kita inginkan dalam sepakbola. Di samping Jepang, Korsel, China dan Arab Saudi, jika Australia bergabung, keuntungannya akan sangat besar. Inilah yang kita kejar,” ujarnya saat itu.

Tetapi melihat apa yang dipertunjukkan Australia di hari-hari belakangan ini serasa mencederai harapan Bin Hammam dan Asia. Australia ternyata tidak lebih daripada sekelompok orang yang hanya mau untung sendiri tetapi tidak memberikan imbal balik yang sepadan atas apa yang mereka dapatkan.

Menjadi jelas bahwa tujuan Australia hijrah ke Asia adalah hanya demi mengejar satu tiket ke Piala Dunia dengan cara yang lebih mudah dan sederhana. Asia punya jatah 4,5 tempat, sementara Oseania –rumah lama Socceroos— hanya punya 0,5 jatah. Juara Oseania masih harus bertanding dengan peringkat lima Asia untuk merebut satu tempat di Piala Dunia.

Australia mengkhianati Asia karena mereka tidak memberikan kontribusi apapun untuk mengangkat level sepakbola Asia yang bisa dilakukan dengan membawa pemain-pemain terbaik, khususnya yang bermain di Eropa. Menghadapi pemain-pemain berlevel dunia akan memberikan pengalaman baru bagi para pemain Asia, tak terkecuali Indonesia.

Mungkin Australia juga sedang memperlihatkan karakter mereka yang asli, yakni gemar menganggap inferior bangsa Asia. Verbeek yang orang Belanda menerjemahkan sifat itu dengan membawa pemain-pemain ‘kelas dua’ ke Stadion Gelora Bung Karno, salah satu stadion termegah dan penuh sejarah di Asia.

Perbenturan jadwal dengan kompetisi Eropa menjadi alibi Australia untuk tidak memaksakan membawa pulang pemain-pemain yang sedang berkutat di sana. Kompetisi-kompetisi di sana memang sedang memanas karena musim akan berakhir kurang dari empat bulan ke depan.

Tetapi sebenarnya selalu ada jalan. Toh, negara-negara Afrika bisa memaksa para jutawan-jutawan pemilik klub untuk melepas para pemainnya untuk bermain di Piala Afrika yang digelar setiap dua tahun di tahun genap.

Asia bukan sedang mengemis. Karena Asia juga sudah membuktikan bahwa (perasaan) superioritas Australia tidak otomatis berujung pada prestasi. Datang sebagai unggulan di Piala Asia 2007, Australia yang membawa para pemain terbaiknya hanya bisa menapak hingga perempatfinal.

Kini, Asia harus menggugat Australia. Baru dua tahun lebih sedikit berlalu sejak cita-cita mulia untuk saling membantu kemajuan sepakbola didengungkan, tetapi itu semua kini dikhianati.

( arp / a2s )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s