GMC 260109

Bismillah. Inilah salah satu fenomena alam yang cukup menarik. Sebuah cara lain memahami betapa Besar Kuasa Allah SWT. Tulisan di bawah ini cukup detail membuat saya mengerti secara sederhana bagaimana proses luar biasa itu terjadi. Semoga Allah menambah kualitas keimanan kita kepada-Nya.#

Gerhana Matahari Cincin (GMC) 26 Januari 2009

Oleh Moedji Raharto

Dalam kesehariannya bulan mengorbit bumi dalam orbit yang berbentuk elips dan bumi beredar mengelilingi matahari berbentuk elips. Dalam satu kali edar penuh bulan mengelilingi bumi terdapat saat bulan mencapai titik terdekat dengan bumi, titik perigee, dan titik terjauh, titik apogee, begitu pula planet Bumi akan mencapai titik terdekat dengan matahari, titik perihelion, dan titik terjauh terhadap matahari, titik aphelion.

Karena orbit bumi mengelilingi matahari berbentuk elips dengan eksentrisitet 0.016773, jarak bumi-matahari tidak konstan, titik paling dekat dengan matahari dinamakan dengan titik perihelion dan titik terjauh dinamakan dengan titik aphelion. Sedangkan jarak rata-rata bumi-matahari sering dikenal dengan satu satuan astronomi adalah 1.49597870 x 100.000.000 km, pada kenyataannya jarak bumi-matahari bervariasi antara 147.091.312 km (perihelion) hingga 152.109.813 km (aphelion). Variasi jarak ini mencapai [ (152.109.813 – 147.091.312) / { (152.109.813 + 147.091.312) /2 }] x 100% = 3% dari nilai jarak rata-rata. Oleh karena itu, diameter sudut matahari bervariasi dari 31.46 menit busur hingga 32.53 menit busur atau semidiameter sudut matahari bervariasi antara 944 ” (detik busur) hingga 976 ” (detik busur).

Jadi, diameter sudut bulan bisa lebih besar, sama besar atau lebih kecil dibandingkan dengan diameter sudut matahari. Kondisi tersebut membuat fenomena gerhana matahari cincin (GMC) bisa berlangsung dan diamati dari permukaan planet Bumi.

Bidang orbit bulan membentuk sudut sekitar 5 derajat atau sekitar 10 kali diameter sudut bulan atau matahari terhadap bidang orbit bumi mengelilingi matahari. Dalam bola langit “lingkaran orbit” bulan memotong “lingkaran orbit” bumi atau ekliptika pada dua titik yang dinamakan titik simpul atau titik ascending node dan descending node. Pada titik simpul pertama ascending node dicirikan bahwa saat bulan melewati titik simpul ini bulan bergerak dari selatan menuju utara ekliptika, sedangkan titik simpul descending node dicirikan sebaliknya. Suatu waktu bisa terjadi kedudukan matahari dan bulan di langit dalam arah yang sangat berdekatan dengan titik simpul tersebut sehingga memungkinkan terjadi gerhana matahari. Pada hari Senin (26/1), ascending node bulan berada di barat rasi Capricornus, tempat berlangsung GMC.

Fenomena gerhana matahari merupakan fenomena arah pandang manusia di permukaan bumi ke arah matahari terhalang oleh bulan. Bila seluruh bundaran matahari ditutup oleh bundaran bulan, fenomena yang dilihat adalah gerhana matahari total (GMT) dan bila seluruh bundaran bulan menghalangi bagian tengah bundaran matahari sehingga matahari tampak seperti cincin api yang tetap menyilaukan maka fenomena tersebut dinamakan dengan GMC dan bila hanya sebagian bundaran bulan menghalangi bundaran matahari dinamakan gerhana matahari sebagian (GMS).

Pada saat terjadi fenomena GMT, rangkaian momen-momen gerhana dalam GMT:GMS, kemudian GMT, pertengahan GMT, dan GMS kemudian gerhana matahari berakhir, setelah arah pandang ke matahari tidak lagi terhalang oleh bundaran bulan.

Pada saat terjadi GMC, rangkaian momen-momen gerhana dalam GMC:GMS, kemudian GMC (bentuk cincin yang tidak simetri), pertengahan GMC (bentuk cincin simetri, tidak selalu), GMC (bentuk cincin yang tidak simetri), dan GMS kemudian gerhana matahari berakhir, setelah arah pandang ke matahari tidak lagi terhalang oleh bundaran bulan. Jalur antumbra bulan yang menyusur permukaan bumi, di mana pengamat bisa melihat GMC relatif sangat sempit dibandingkan dengan dengan kawasan penumbra bulan. Di kawasan penumbra bulan GMS bisa disaksikan. Kawasan yang dicakup penumbra bulan meliputi sebagian selatan Afrika, Madagaskar, Australia kecuali Tasmania, tenggara India, Asia Tenggara, dan seluruh wilayah Indonesia.

Pada saat terjadi (GMS), rangkaian momen-momen gerhana dalam GMS dari awal hingga akhir, hanya sebagian bundaran bulan yang menghalangi bundaran matahari, persentase yang terhalang makin besar dan maksimum kemudian kembali mengecil dan akhirnya gerhana matahari berakhir setelah seluruh bundaran matahari tidak lagi terhalang oleh bundaran bulan.

Dua gerhana matahari

Pada 2009 terdapat dua gerhana matahari, yang pertama GMC yang akan berlangsung Senin (26/1) dan GMT yang akan berlangsung pada 22 Juli 2009.

Pada 26 Januari 2009 seluruh penduduk di wilayah Indonesia berkesempatan menyaksikan gerhana matahari. Jalur yang bisa menyaksikan GMC-2009, dimulai dari Lautan Hindia, menyusur ke kawasan Indonesia, Sumatra Selatan, Krakatau, sebagian Banten, sebagian Pulau Bangka, Pulau Belitung, sebagian Kalimatan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, sebagian Sulwesi Utara.

Teluk Betung, Samarinda, Serang, Anyer, Banten, Cilegon, Merak, dan Lampung adalah kota-kota yang dilewati jalur antumbra bulan. Penduduk di kota itu bisa mengamati GMC antara 2-6 menit.

Seluruh wilayah Indonesia lainnya umumnya akan menyaksikan GMS, maksimum bundaran matahari yang diblok (tertutupi) oleh karang bulan sekitar 40-85%. Seluruh momen GMC tidak boleh disaksikan secara langsung dengan mata bugil, cahaya matahari pada waktu GMC maksimum tinggal sekitar 15%, masih terlalu kuat untuk ditatap dengan mata bugil, bisa membakar retina mata dan menjadi buta, cacat permanen pada mata. Mata harus dilindungi dengan kacamata matahari yang andal sehingga memberi kesan bagi yang melihat dengan kacamata matahari, mata tetap sejuk, dan matahari tampak seterang bulan purnama. Penggunaan teropong atau binokuler harus dilengkapi dengan filter penapis cahaya matahari yang diletakkan atau dipasang di depan objektif. Jangan sekali-kali melihat matahari, GMS atau GMC dengan teleskop yang tidak diberi penapis cahaya matahari, bisa membakar mata kita, dan membuat cacat mata permanen. Kacamata matahari dan filter penapis cahaya matahari berfungsi untuk menapis cahaya yang membahayakan mata dan meredam intensitas cahaya matahari hingga 400 kali lebih lemah. Pada panjang gelombang kasat mata, matahari tampak seperti bulan purnama bila filter matahari dipergunakan untuk melihat matahari.

Cara pengamatan gerhana matahari lainnya adalah menggunakan kamera lubang jarum (pinhole camera), sebuah karton dilubangi sebesar lubang jarum diarahkan ke matahari sehingga citra matahari yang terbentuk akan sangat lemah dan aman untuk dilihat dengan mata bugil. Citra tersebut sebaiknya dilihat dalam lingkungan yang gelap dalam sebuah tabung yang agak besar dan diberikan lubang sehingga bisa disaksikan dengan mata bugil dari luar tabung pelindung cahaya sekeliling. Semua bagan kamera lubang jarum bisa dibuat dari bahan karton. Selain itu, juga memproyeksikan bayangan matahari yang dihasilkan oleh teleskop ke layar atau citra yang diperoleh langsung dari pengamatan GMC yang disalurkan lewat internet ditayangkan melalui LCD ke layar. Begitu pula bisa dibuat peralatan yang meredam cahaya matahari lewat beberapa kali pemantulan cermin sehingga citra matahari yang dalam keadaan gerhana bisa dilihat dengan aman secara tidak langsung.

Bagi yang akan menyaksikan gerhana, kedudukan matahari pada saat berlangsungnya gerhana sudah rendah condong ke barat. Secara umum, saat gerhana matahari mencapai maksimum tinggi matahari kurang dari 30 derajat. Dalam arah azimut antara 14-17 derajat dari titik barat ke arah selatan. Perlu mencari daerah pengamatan yang lapang di sebelah barat, ke arah lokasi tempat terbenamnya matahari. Secara umum wilayah Indonesia Barat diuntungkan secara geografis untuk pengamatan karena di Sumatra Selatan misalnya, kedudukan matahari masih setinggi 23 derajat pada waktu GMC mencapai maksimum.

Di wilayah Indonesia Tengah dan wilayah Indonesia Timur misalnya di Kota Ambon, Mataram, dan Jayapura pada saat gerhana matahari mencapai maksimum, bertepatan waktu matahari terbenam atau bahkan matahari sudah terbenam. Momen matahari terbenam dalam keadaan gerhana merupakan pemandangan indah.

Awal dan akhir gerhana berbeda di setiap kota. Di Aceh, gerhana matahari dimulai pukul 15.33 WIB dan berakhir pukul 17.59 WIB; di Bandung dan umumnya Jawa Barat, gerhana mulai pukul 15.20 WIB dan berakhir pukul 17.49 WIB, pada momen gerhana maksimum (di Bandung sekitar 82% tertutup bundaran bulan) dicapai pada pukul 16.40 WIB. Di Jawa Barat, matahari akan tampak seperti sebuah sabit bulan yang sangat terang, sedangkan di Aceh hampir mirip dengan bulan setengah yang sangat terang. Di lokasi yang dapat menyaksikan GMC-2009 tidak bisa menyaksikan korona mataha.

Sedangkan GMT hanya bisa disaksikan pada kawasan yang dilewati umbra bulan. Jalur umbra bulan mulai menyusur daratan India (dekat Mumbai) sekitar pukul 8.00 pagi ke arah timur Cina sekitar pukul 8.30 dengan lama gerhana matahari total antara 4-6 menit.

Hanya sebagian wilayah Indonesia yang bisa menyaksikan momen GMS yaitu Sumatra Utara, Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan Irian Jaya. Gerhana matahari berlangsung pada pagi hari, dimulai dari kawasan barat Indonesia dan paling akhir adalah kawasan Irian Jaya (sekitar pukul 10.00 WIB). Penduduk yang berdiam di Pulau Jawa tidak dapat menyaksikan gerhana matahari 22 Juli 2009 yang akan datang, di luar kawasan yang bisa menyaksikan gerhana matahari 22 Juli 2009.

Peristiwa GMC-2009 bertepatan dengan Tahun Baru Cina (Imlek). Hal ini sangat mungkin terjadi karena kalender Cina menggunakan sistem Luni Solar. Gerhana matahari akan berlangsung pada saat ijtimak atau konjungsi dan bisa terjadi di semua bulan, pergantian kalendar Cina bergantung pada berlangsungnya ijtimak atau konjungsi di bulan Januari atau Februari. Jadi, sangat memungkinkan terjadi fenomena gerhana pada Tahun Baru Cina.

Peristiwa GMC-2009 juga pertanda akan berakhirnya bulan Muharam 1430 H, hilal memungkinkan diamati pada 27 Januari 2009, jadi pergantian bulan Muharam 1430 ke bulan Safar 1430 H akan berlangsung 27 Januari 2009 setelah Magrib. Bagi umat Islam, jadwal GMC-2009 juga merupakan jadwal salat sunat Gerhana Matahari (Khusuf). Pendek kata, GMC-2009 mempunyai banyak makna, menggubah suasana dan laboratorium tempat belajar dari alam semesta karya Yang Mahaagung, Mahacendekia, Mahabesar, semoga kita bisa menimba banyak hikmah dari fenomena GMC-2009. ***

Penulis, Kelompok Keahlian Astronomi FMIPA ITB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s