Guru Berprestasi: Kualitas Assesor dan Tantangan LPMP

Setiap tahun, pemerintah melalui Depdiknas menyelenggarakan lomba terhadap guru berprestasi dalam berbagai tingkatan: satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten, provinsi, sampai tingkat nasional. Pemilihan Guru Berprestasi dimaksudkan pemerintah untuk memberi dorongan motivasi, dedikasi, loyalitas, dan profesionalisme guru yang diharapkan akan berpengaruh positif pada kinerja dan prestasi kerjanya (Depdiknas, 2009). Selain itu, ajang kompetisi ini dilaksanakan dalam rangka memberikan perhatian dan penghargaan kepada para guru. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 14 tahun 2005, pasal 36 ayat (1) “Guru yang berprestasi, berdedikasi luar biasa, dan/atau bertugas di daerah khusus berhak memperoleh penghargaan”.

Dengan berbagai kriteria yang ada tentang guru berprestasi, muncul pertanyaan buat lembaga quality assurance (QA) semisal LPMP: sudah seberapa tepatkah penentuan pemenang lomba guru berprestasi itu? Adakah peran Lembaga dalam melahirkan guru-guru berprestasi dengan kualitas yang makin meningkat? Apakah Lembaga memiliki jaminan bahwa pemenang lomba guru berprestasi itu bisa menularkan keberprestasiannya kepada para siswa dan rekan sejawatnya?

Kriteria Guru Berprestasi
Paling tidak, ada tiga kriteria yang menjadi acuan penilaian dalam pemilihan guru berprestasi, yakni: pertama, unggul/mumpuni dilihat dari kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional; kedua, menghasilkan karya kreatif dan inovatif; dan ketiga secara langsung membimbing peserta didik hingga mencapai prestasi di bidang intrakurikuler dan/atau ekstrakurikuler.

Kompetensi pedagogik dinilai dari tingkat pemahaman guru terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Memahami peserta didik artinya mampu memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif dan kepribadian peserta didik, serta mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik. Merancang pembelajaran artinya memahami landasan kependidikan, menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih. Melaksanakan pembelajaran artinya menata latar/setting pembelajaran, dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif. Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran memiliki indikator merancang dan melaksanakan evaluasi proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode, menganalisis hasil evaluasi untuk menentukan ketuntasan belajar (mastery learning), dan memanfaatkan hasil penilaian untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Adapun pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya adalah memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan potensi akademik dan nonakademik.

Kompetensi kepribadian tercermin dari kemampuan personal, berupa kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, serta berakhlak mulia. Kepribadian yang mantap dan stabil artinya bertindak sesuai dengan norma hukum dan norma sosial, bangga sebagai guru, dan memiliki konsistensi dalam bertindak. Dewasa artinya menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru. Arif artinya menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak. Berwibawa artinya memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan disegani. Adapun berakhlak mulia berarti bertindak sesuai dengan norma religius (iman dan takwa, jujur, ikhlas, suka menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani siswa. Pada penilaian tertulis, soal tes kepribadian antara lain berupa tes potensial akademik (TPA) yang meliputi kemampuan verbal dan kemampuan matematis.

Kompetensi sosial tercermin dari kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Selain dengan melihat bukti fisik pada portofolio, kompetensi sosial juga dinilai dengan tes tertulis berupa tes kompetensi sosial, seperti tes skala sikap.

Kompetensi profesional tercermin dari tingkat penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mancakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodolgi keilmuannya. Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi artinya memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah, memahami struktur, konsep, dan metode keilmuan yang manaungi atau koheren dengan materi ajar, memahami hubungan konsep antarmata pelajaran terkait, dan menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun menguasai struktur dan metode keilmuan berarti menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk memperdalam pengetahuan / materi bidang studi. Untuk guru SMP dan SMA/K, penilaian kompetensi profesional berupa soal tes sesuai dengan bidang studi yang diampunya.

Kriteria kedua guru berprestasi adalah menghasilkan karya kreatif dan inovatif. Kegiatan ini meliputi:
1. Pembaruan (inovasi) dalam pembelajaran atau bimbingan
2. Penemuan teknologi tepat guna dalam bidang pendidikan
3. Penulisan buku fiksi / nonfiksi di bidang pendidikan atau sastra Indonesia dan sastra daerah
4. Penciptaan kaya seni
5. Bidang olahraga

Adapun kriteria ketiga guru berprestasi adalah membimbing peserta didik hingga mencapai prestasi, baik di bidang intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Kriteria ketiga ini dapat dipahami bahwa seorang peserta pemilihan guru berprestasi dinilai dengan melihat prestasi yang dimiliki peserta didik. Dalam bidang intrakurikuler misalnya nilai akademik yang tinggi, olimpiade berbagai ilmu, dan berbagai lomba yang berkaitan dengan bidang akademik, sedangkan bidang ekstrakurikuler adalah prestasi nonakademik, seperti prestasi di bidang olahraga, seni, dan berbagai keterampilan.

Tantangan bagi LPMP

Dengan berbagai kriteria guru berprestasi seperti di atas, nyatalah bahwa sesungguhnya guru berprestasi itu benar-benar seorang guru yang hebat. Harus diakui bahwa memang tidak mudah, untuk tidak mengatakan sulit, menjadi guru berprestasi. Maka peran lembaga QA semisal LPMP tentu lebih tidak mudah lagi: diperlukan orang-orang yang lebih berprestasi dengan berbagai kriteria hebat yang akan layak menjadi assesor bagi para peserta lomba guru berprestasi. Layaknya seorang guru yang menguji siswanya untuk menentukan mana siswa yang berprestasi, tentu sang guru itu sudah lebih awal memiliki “kelebihan” dibanding siswa-siswanya.

Oleh karena itu diperlukan sebuah mekanisme komprehensif untuk menentukan orang-orang yang layak menjadi assesor bagi guru berprestasi. Perlu mekanisme berupa fit and proper test. Mekanisme itu, setidaknya berupa seleksi melalui berbagai aspek dan cara penilaian, antara lain:

Pertama, tes potensi akademik secara tertulis, dengan waktu pengerjaan soal yang sempit. Cara seperti ini hanya akan meloloskan orang-orang yang memiliki kecepatan berpikir, strategi menjawab soal dan manajemen waktu yang baik. Orang-orang yang memiliki kecepatan berpikir tanpa manajemen waktu yang baik, atau tidak memiliki strategi dalam bekerja, tentu tidak akan layak menjadi assesor bagi guru berprestasi.

Kedua, wawancara. Melalui wawancara ini, para calon assesor akan diuji kemampuannya menyampaikan ide, wawasan, alur pikir, rasa percaya diri dan kemampuannya berkomunikasi verbal. Orang-orang yang mampu berkomunikasi efektif-efisienlah yang layak menjadi assesor bagi guru berprestasi, karena kompetensi pedagogik, kepribadian, dan sosial bertumpu pada kemampuan berkomunikasi ini.

Ketiga, observasi performance. Sebagaimana diketahui, salah satu tes bagi guru berprestasi adalah unjuk kerja. Pada tes ini, guru dituntut untuk bersimulasi praktek mengajar, terkadang berupa kegiatan berdiskusi mengenai topik tertentu yang disediakan panitia, dan presentasi karya tulis ilmiah (karya kreatif dan inovatif). Unjuk kerja juga berupa kemampuan dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), berupa membuat presentasi dengan komputer berdasarkan makalah yang disediakan dan mencari bahan ajar melalui internet. Nah, maka hanya orang-orang yang terbiasa praktik mengajar, berdiskusi, dan IT-literacy saja yang bisa melakukan penilaian bagi guru-guru tersebut.

Performance staf assesor dalam mengerjakan tugas sehari-harinya di kantor, kedisiplinan dan sosialisasi dengan rekan-rekan sejawat menjadi faktor penting karena keteladanan itu yang akan diujikan kepada para peserta lomba guru berprestasi.

Mengacu pada ketiga hal tersebut di atas, diperlukan sebuah sistem training dan evaluasi bagi para assesor guru berprestasi. Selain itu, insrumen penilaian bagi guru yang lengkap dan akurat juga mesti disiapkan. Training dan penyiapan instrumen ini harus menjadi salah satu bagian dari Standard Operational Procedure (SOP) penyelenggaraan lomba guru berprestasi.

Jika hal ini sudah secara konsisten bisa dilakukan dan dengan prinsip terus melakukan perbaikan (continuous improvement), maka keraguan beberapa pihak pada Lembaga dalam menentukan guru-guru berprestasi dan menjamin kualitasnya, baik sebelum dan sesudah lomba, akan bisa ditepis dan insya Allah menjadikan Lembaga ini benar-benar sebagai Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan. Maju terus, LPMP!#

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s